Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Tulisan ini telah mengalami revisi, karena tulisan sebelumnya (apa itu puisi?) menurut saya tidak berbicara apa-apa mengenai puisi itu sendiri.

Sutardji Chalzoem Bachri pernah menulis sebuah kredo tentang puisi. Kredo merupakan sebuah kata serapan, yang berasal dari bahasa Latin yakni credo yang berarti aku percaya.  Dalam kredo puisi tersebut, Sutardji mengembalikan kata-kata kepada mantra, karena menurut Sutardji menulis puisi adalah membebaskan kata-kata, yaitu pada mulanya kata. Kata tidak seharusnya menyandang beban tertentu untuk menunjukan seuatu hal. Kata tidak berarti apa-apa, selain kata itu sendiri. Misal, kursi bukanlah tempat untuk duduk melainkan kursi itu sendiri. Kata tidak seharusnya dibebani oleh sesuatu, termasuk moral didalamnya. Apabila kata terbebani oleh sesuatu, maka kata tersebut terbelenggu dan terjajah, sehingga kata itu sendiri tidak bisa menafsirkan apa-apa selain hal yang membebaninya tersebut.

Saya mencoba membuat kredo saya sendiri terhadap puisi, terhadap apa yang saya yakini tentang puisi. Sedikit banyak, kredo Sutardji tentang puisi ini mencerahkan saya terhadap pengertian puisi itu sendiri.

Menurut saya, puisi tidak hanya terdiri dari sebuah kata per kata. Sebuah puisi dibangun oleh bermacam-macam komposisi. Seperti misalnya sebuah lukisan, terdiri dari warna, bentuk, dan tentunya emosi. Foto, terdiri dari obyek, cahaya, dan tentunya emosi yang ingin disampaikan. Musik, terdiri dari pelaguan nada-nada, gabungan berbagai macam instrumen, dan tentunya emosi yang membangun musik tersebut. Begitupun dengan puisi. Puisi tidak hanya terdiri dari kata saja, melainkan ada sebuah emosi, bentuk, dan segala sesuatu yang membangun puisi tersebut sehingga membedakannya dengan karya sastra lain.

Setiap karya apapun itu bentuknya, tentu memiliki tendensi tertentu. Puisi, memiliki tendensi pula, yakni sebagai media penghantar emosi si penyair. Bukan bermaksud membebankan puisi untuk melakukan suatu hal, namun demikianlah adanya. Ketika sebuah puisi muncul, tentu dibelakangnya ada sebuah proses kreatif. Proses tersebut yang kemudian menghantarkan puisi menjadi sebuah media penyampai emosi, entah itu marah, sedih, gembira, berduka, mengamuk, tertawa, bahagia, dll.

Puisi haruslah romantis. Romantis tidak selalu cengeng dan membahas percintaan, bukan? Romantis disini mengacu pada sebuah upaya membangkitkan kenangan-kenangan indah yang ada pada obyek puisi itu. Kenapa puisi harus romantis? Karena sesuatu yang baik dan indah dalam ingatan, akan membangkitkan gairah dalam menjalani kehidupan didepan. Kalau terjebak dalam romantisme, ya minimal kita bisa bahagia dalam kenangan-kenangan tersebut. Puisi harus membuat umat manusia bahagia. Seperti kakek-kakek yang selalu menceritakan kenangan-kenangan masa mudanya kepada anak cucunya, puisi berperan sebagai “potret” kenangan tersebut.

Dan, kata-kata yang membangun puisi tersebut adalah sebuah potongan film, atau potongan tangga nada dasar. Kata-kata membentuk sebuah ingatan. Ingatan mengalir menjadi sebuah romantisme tentang hasrat terpendam, pencapaian yang luar biasa, dan lain sebagainya.

Dan, puisi membangun semua itu dalam sebuah partitur, frame, atau pita kaset untuk kita mainkan kembali, secara berulang-ulang.

Aku percaya, puisi bisa membawaku pada sebuah emosi yang identik, ketika aku pernah merasa bahagia sekali, atau berduka sekali. Meskipun pada saat ini, aku tidak mampu merasakan apa-apa lagi.

Jogjakarta, 13 Desember 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: