Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Dalam bahasa Kejawen, kematian adalah geblak atau nyur tanah. Kematian adalah suatu proses kembalinya daya jiwa atau life forces kepada Hyang Widhi. Kematian didalam Kejawen dibagi menjadi beberapa jenis, yakni: pati cilaka, pati manusup manjalmo, pati biyasa, , dan pati sampurno.

1. Pati Cilaka

Pati Cilaka atau dalam bahasa Indonesia berarti mati celaka, dalam Kejawen berada pada tingkatan paling rendah. Manusia yang nantinya akan melalui proses kematiannya lewat tingkatan ini akan menjadi manusia yang benar-benar celaka. Sebab kematian dari pati cilaka antara lain adalah terbunuh, bunuh diri, kecelakaan, dan sebab lainnya yang sejenis. Daya jiwa yang sejatinya harus kembali kepada Hyang Widhi akan terus bergentayangan di bumi. Daya jiwa ini baru akan kembali setelah jatah umurnya yang ditetapkan oleh Hyang Widhi benar-benar habis. Karena kematian dengan cara ini menyalahi takdir, dan orang Kejawen yakin bahwa Hyang Widhi tidak akan menakdirkan kematian manusia dengan cara seperti ini. Itupun setelah jatah umurnya sudah habis, daya jiwa ini tidak langsung kembali kepada Hyang Widhi melainkan mendiami suatu tempat tertentu, misalnya pohon, batu, kuburan, dll.

2. Pati Manusup Manjalmo

Pati Manusup Manjalmo dalam bahasa Indonesia berarti menyusup atau menjelma menjadi sesuatu. Hal ini sangat berkaitan erat dengan reinkarnasi. Manusia yang akan mengalami proses kematian dengan cara ini meninggal dengan cara yang wajar, namun dia harus membayar lunas dosa-dosa di bumi dengan berubah wujud menjadi makhluk lain selain manusia. Manusia ini bisa berubah menjadi babi, ular, anjing hutan, bahkan didalam benda pusaka seperti keris, cincin, tombak, dan lain sejenisnya. Mungkin hampir sama dengan pati cilaka, yang membedakan hanya cara dia meninggal. Pati manusup manjalmo juga berkaitan dengan manusia-manusia yang masih hidup. Manusia yang masih hidup seyogyanya mendoakan manusia yang sudah meninggal, bukan lantas meminta bantuan semacam wangsit atau lainnya. Hal ini akan mempengaruhi ketenangan daya jiwa, yang seharusnya sudah lepas urusan dengan alam dunia.

3. Mati Biyasa

Mati Biyasa dalam bahasa Indonesia berarti mati yang lazim. Sebabnya karena penyakit di usia senja. Proses kematian seperti ini sudah tidak ada hutang apapun kepada dunia, manusia yang mati dengan cara seperti ini tinggal menunggu hari kiamat dalam kuburnya. Daya jiwanya juga berada pada tempat yang semestinya yakni akhirat.

4. Mati Sampurna

Mati Sampurna dalam bahasa Indonesia berarti mati yang sempurna atau berkualitas. Proses kematian seperti ini menduduki peringkat paling atas dalam Kejawen. Mati seperti ini terjadi saat manusia sedang syahid atau berperang demi keyakinannya, saat sedang berbuat kebajikan, dan lain sejenisnya. Daya jiwa ini langsung melesat kepada Hyang Widhi menuju Nirwana, dan tidak singgah di akhirat. Daya jiwa ini benar-benar meraih ketenangan dan ketentraman.

%d bloggers like this: