Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Kekasihku adalah gadis yang cantik. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya lurus sebahu. Bola matanya seolah tak pernah berhenti bercerita dibalik sepasang kacamata berwarna bening yang menggantung di hidungnya yang mancung. Bercerita tentang indahnya perjalanan cinta yang berhasil kami tempuh. Aku mencintai kekasihku. Sangat mencintainya. Kami selalu bertemu setiap hari. Kucium keningnya setiap saat kami bertemu. Kupegang tangannya setiap kali dia meragukan sesuatu. Kupeluk kekasihku setiap kali dia merasa dipecundangi oleh waktu. Kami juga tak ragu-ragu untuk menangis bersama-sama. Saling bertatap muka menyelami dalamnya jiwa kami masing-masing lewat sebuah kilatan cahaya mata. Kami pernah tidur bersama diatas ranjang yang menjelma malam yang lelah dikalahkan hari. Kami juga pernah bersembunyi dibawah merahnya senja yang berkibar. Kami bersembunyi sembari cekikikan mengintip malam yang kebingungan mencari rembulan.

Aku mencintai kekasihku. Setiap hari aku kirim dua judul puisi. Satu tentang matahari, satu tentang rembulan. Dengan romantis kuketuk jendela kamarnya di waktu malam hari, kuberikan satu judul puisi lagi, tentang cinta kami. Matahari dan rembulan adalah satu cahaya. Matahari tak pernah rela melepaskan malam berjalan sendirian, dia menggantungkan sebuah rembulan untuk menemani manusia-manusia yang kesepian. Lantas cinta kami tumbuh diantara kesepian-kesepian manusia yang tak sempat ditemani rembulan. Cinta kami terang benderang. Berpendar saat malam. Seperti bola mata kekasihku yang terus mengawasi setiap kelakuanku. Saat rembulan berada tepat ditengah-tengah jendela kamar kekasihku, kami berciuman. Bibir kekasihku kenyal. Kupagut dengan bahasa cinta yang begitu kental. Lidah kekasihku basah. Kami lumat habis semua gelisah, hingga bibir kami merah nyaris berdarah. Kami saling pandang, tersipu malu, lalu tertawa sepuas-puasnya.

Aku mencintai kekasihku. Aku tak akan membiarkannya bergundah gulana sedih merana. Setiap hari kukirimkan senyum di bibirnya yang tipis layaknya keripik singkong yang renyah. Kubawakan anak-anak cakrawala yang berubah bintang untuk menari-nari di hadapannya. Ada juga hantu yang lupa memakai rambut palsu di bawah rindangnya bianglala. Hantu itu lantas berlari pulang mengambil rambut palsunya yang terbawa pulang oleh angin. Kekasihku tertawa keras sekali. Kekasihku tertawa sampai berjingkrak-jingkrak. Seperti kuda liar yang berlari di padang sabana. Begitu bebas. Begitu lepas. Kekasihku tertawa sampai mengeluarkan airmata. Sampai mau kencing. Begitu geli, sehingga aku ketularan. Kami tertawa berdua. Kami tertawa sampai mata kami mau copot. Begitu lucunya sehingga membuat kami terdiam sejenak dan saling pandang. Lalu kami berpelukan.

Aku dan kekasihku tak ingin berpisah. Kami ingin menempel seperti bayi kembar siam. Kami hanya ingin memiliki satu tubuh. Kami hanya ingin punya satu jantung saja, supaya kami bisa sama-sama merasakan besarnya cinta yang mengalir lewat aliran darah dan dipompa oleh jantung lantas menjelma menjadi hembusan nafas yang membuat kami bisa tetap hidup. Membuat kami bisa terus bernyawa dalam satu tubuh.

Kekasihku adalah gadis yang baik hati. Dia selalu meminjami wajahnya yang cantik untuk kuterka sebagai puisi. Kekasihku juga pintar menyanyi. Suatu hari aku tak sengaja mendengarnya dari balik pintu kamar mandi. Suaranya merdu, berdenting ditelingaku seperti piano yang dimainkan oleh rintik hujan. Begitu dingin menenangkan. Seperti ada dawai biola didalam tenggorokan kekasihku yang mengeluarkan lagu-lagu syahdu. Kekasihku menyanyi didalam kamar mandi, dibawah guyuran shower yang membasahi tubuhnya. Dia tidak sadar jika aku sedang menguping di luar sini, sambil tersenyum-senyum geli sendiri.

Kekasihku keluar dari kamar mandi, wajahnya memerah setelah mendapati telingaku menempel di daun pintu kamar mandinya. Kekasihku semakin cantik dengan raut wajah seperti itu.

Aku dan kekasihku menjadi tak memiliki waktu untuk diri sendiri. Kami terlalu sering bersama, dan melupakan diri sendiri, yang juga sangat kami cintai. Kami telah saling merebut cinta kami masing-masing terhadap diri sendiri. Diri kami menjadi cemburu terhadap aku dan kekasihku. Mereka sakit hati. Suatu hari mereka merencanakan untuk membunuh cinta kami. Mereka berniat merebut cinta kami. Mereka menjelma mimpi buruk dan suara sumbang di dalam nyanyian cinta kami. Aku dan kekasihku menjadi kurang tidur. Kami menjadi pucat, dan saling membenci diri kami masing-masing, karena telah berniat buruk terhadap cinta kami. Aku dan kekasihku gelisah terhadap diri kami sendiri, kami takut mereka berhasil membunuh cinta kami.

Suatu malam, mereka berhasil melakukan niat buruk mereka. Saat kami baru saja beranjak tidur, mereka datang tiba-tiba dengan wajah begitu buruk dan licik. Aku dan kekasihku dicekiknya. Kami meronta-ronta mencoba melawan. Aku gigit salah satu tangannya. Aku ditamparnya kuat-kuat. Kekasihku menjambak rambutnya. Kekasihku ditendangnya jauh-jauh. Kami tak sanggup lagi melawan. Kami ketakutan, saling berpelukan. Mata kami saling berpandangan dan kami menangis.

Mereka semakin girang melihat kami menderita. Mereka tertawa puas sekali. Berteriak-teriak. Berjingkrak-jingkrak. Melompat. Menggila. Mereka seperti kesetanan. Mereka tak peduli dengan tangis ketakutan kami. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengeluarkan sebilah pedang. Tampak kilatan api kecemburuan dan cinta yang terbakar amarah pada sorot matanya yang tajam. Kami ingin dibunuhnya. Dia mulai mengayunkan pedangnya ke leher kekasihku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Kekasihku hanya terbengong-bengong menghadapi peristiwa itu. Aku hanya memejamkan mata tak mampu melihatnya. Aku hanya bisa mendengar kekasihku berteriak disusul gelak tawa yang keras dan menggetirkan. Saat aku buka mataku, semuanya sudah hilang. Kekasihku hilang. Aku hanya sendirian. Mereka sudah pergi, mungkin membawa kekasihku juga. Aku tak tahu, yang aku tahu aku hanya sendiri. Tubuhku penuh darah. Mungkin darah kekasihku menciprati tubuhku. Aku menangis. Sendiri. Tidak tahu apa yang terjadi.

%d bloggers like this: