Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

musik mencerminkan jiwa seseorang. seperti seorang penyair yang menafsirkan gejolak batinnya lewat untaian kata-kata, musik muncul sebagai rekaman atas apa yang sedang dirasakan oleh pembuatnya, dalam hal ini pemusik. seperti halnya genre musik yang lain, shoegaze pun demikian. secara etimologis, shoegaze berarti melihat sepatu. hal ini disebabkan, saat orang-orang yang memainkan aliran musik ini, mereka menunduk dan seperti sedang melihat ujung sepatu mereka sendiri.

shoegaze menawarkan sebuah ruang untuk pendengarnya merayakan kesepiannya masing-masing. karakter musik yang penuh dengan distorsi untuk menggambarkan jiwa yang bergejolak dan lantunan vokal yang biasanya datar dan terkadang menggunakan suara palsu (a.k.a falset) ditambah gebukan drum yang berderap-derap semacam degup jantung, yang selalu saja mengejar-ngejar usia kita. seperti penggambaran jiwa yang sebenarnya ingin berteriak-teriak namun badan tak mampu/mau mengabulkannya.

shoegaze sangat dekat dengan aliran musik semacam post-rock, phsycadelic pop, dream pop, post-punk, dan noise pop. aliran semacam itulah yang mempengaruhi warna musik shoegaze. kedekatan warna musik diatas dengan shoegaze terlihat dalam intensitas penggunaan distorsi pada setiap lagunya.

mendengarkan musik-musik shoegaze seolah-olah musik tersebut mengajak alam bawah sadar kita untuk bermain-main dengan kegalauan. bahkan terkadang secara laten mengajak pendengarnya untuk membunuh dirinya sendiri. membaca aliran musik ini dengan mendengarkan suara-suara yang dihasilkan, kita bisa mendapat sebuah pengertian bahwa antara kebahagiaan dan kesedihan bisa bertemu pada satu titik, dan shoegaze menjadi titik temu dua perasaan yang kontradiktif tersebut.

ketika punk menghembuskan nafas kebebasan dalam warna musiknya, shoegaze menggambar perayaan kesepian secara meriah didalam musikalitasnya. musik-musik yang sebenarnya riang dan mampu membawa khayalan kita kepada sebuah perasaan yang sangat membahagiakan, dikemas dalam suasana yang galau, gelap, cemas dan sebenarnya menakutkan.

mungkin perasaan itulah yang dirasakan oleh para pemusik shoegaze, ketika diatas panggung mereka seolah sedang kesepian, padahal mereka sedang merayakannya.

[ band shoegaze dari awal dikenal aliran ini : My Bloody Valentine, Sonic Youth, Cocteau Twins, Jesus and Mary Chain, Chapterhouse, Ride, Slowdive ]

%d bloggers like this: