Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Seorang kawan bercerita, bahwa dia baru saja menyaksikan sebuah acara musik yang mengusung semangat ‘indie’ dihalaman kantor sebuah surat kabar lokal Jogjakarta. Yang menarik perhatian saya terhadap apa yang diceritakannya adalah bintang tamu acara tersebut salah satunya adalah SKJ ’94, yang notabene adalah band yang sangat saya sayangi. Menarik. Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat sebuah band didaulat sebagai band ‘indie’, dan yang paling penting adalah pengertian ‘indie’ itu sendiri.

Indie, secara praktis, berarti independen. Merdeka dan bebas. Dalam konteks bermusik, musik indie menurut hemat saya adalah sebuah komposisi musik yang dihasilkan tanpa ada intervensi apapun (dalam hal ini adalah pasar) dalam proses kreatifnya, sehingga si pembuat komposisi musik tersebut bisa merasakan “keberadaannya” didalam musik yang ia buat. Merasakan “keberadaan” dalam hal ini mungkin bisa berarti independen karena output yang dihasilkan adalah murni dari kesadaran dan proses kreatifnya secara subyektif, tanpa ada intervensi pihak lain, sehingga si pembuat musik itu merasa puas karena berhasil memanifestasikan dirinya dalam sebuah karya seni, dalam hal ini komposisi musik.

Apabila si pembuat musik tersebut menggunakan referensi komposisi musik lain, maka secara satu paket dia harus tahu apa yang dia dengarkan secara menyeluruh (baca : ngeroot) terhadap musik yang menjadi referensinya tersebut, tidak sekonyong-konyong permukaannya saja a.k.a banal. Contoh, apabila ditanya “eh guys, Nidji tuh band apaan sich ?” maka kita bisa menjawab secara komperhensif corak musik yang mereka bawa, dari album pertama sampai album terbaru mereka, sehingga bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa Nidji itu adalah band, emmmm band apa ya ? Maaf. Sepertinya saya salah mengambil contoh, karena Nidji adalah contoh nyata Band Banal Tingkat Nasional, jadi sangat sulit menemukan idealisme bermusik dalam band tersebut. Saya ganti saja contohnya menjadi Sonic Youth, misalnya. Ketika beberapa album terakhir mereka (Murray Street, Sonic Nurse, Rather Ripped,dst) bernuansa Grunge,karena Thurstoon Moore sangat tergila-gila kepada Kurt Donald Cobain, tapi apabila ditilik ulang dari album pertamanya yakni Confusion is Sex sampai Goo yang muncul diakhir ’80an, mereka lebih cenderung pada genre Noise. Lantas, apakah kemudian Sonic Youth adalah band beraliran Grunge, tentu tidak demikian, karena mereka sudah memunculkan benang merah dalam mainstream bermusik mereka, yakni Noise. Sejauh apapun mereka bereksplorasi, aroma Noise masih bisa kita rasakan disetiap album dan lagu-lagu mereka. Nggak kayak Nidji.

Pada kasus SKJ ’94, menurut saya adalah salah besar apabila ada acara atau gigs yang mengusung semangat ‘indie’ malah menampilkan SKJ ’94 dan band2 sejenis, sepaham, semacam, sebelas dua belas, segantang dua gantang, sehidup semati, sekarepmu…:) karena, menurut saya band tersebut sama sekali tidak bebas. Tidak bebas dalam artian berpikir dan berkarya. Saya sangat bisa menerima, ketika ada sebuah gigs yang mengusung semangat ‘indie’ menampilkan band2 yang benar2 konsisten dalam musik mereka -meskipun sebenarnya saya kurang selera terhadap musik tersebut, tapi sangat mengapresiasi mereka dalam hal bermusik- semacam Kuburan Batu, Sembah Darah, Distorsi Arwah, Kepala Setan Pecah, dan nama-nama band sejenis.

Kalo SKJ ’94, mereka malah membuat sebuah kontradiksi dengan semangat ‘indie’. Alasannya simpel sebenarnya, mereka adalah salah satu korban dari aksi “banalisme Giring dkk. dalam bermusik, lewat hitsnya yang meledak yakni, Disco “Asshole” Time.

Fenomena asshole yang membuat ruang elektrik yang susah-susah dibangun oleh Goodnight, Ape On The Roof, Upstair agar tampak mahal dan cerdas, serta merta runtuh begitu saja. Bodohnya lagi, hits tersebut mendapat tempat dihati masyarakat “muda” kita. Semacam membawa sebuah gebrakan baru dalam bermusik, Nidji adalah band cerdas (ndasmu !). Pasca meledaknya Disco Asshole Time meledak, muncul gerakan reaksionerisme band-band’an lewat “Elektrisasi Panggung Pensi” yang dimotori oleh SKJ ’94, Diskomojoyo. Bahkan, Jikustik lewat “Selamat Malam Dunia”. Gila !

Padahal, ketika Nidji pertama muncul (waktu itu saya lihat di acara Satu Jam Bersama Iwan Fals yang disiarkan SCTV) mereka membawa musik british versi Coldplay dengan Giring menampilkan aksi panggungnya bak Chris Martin, lewat lagunya yang berjudul “Child”. Sumpah I Love You, saya terkagum-kagum dengan band ini, dan langsung “salto kebelakang kayak Kasino pas difilm Dono karena sofa yang ada uangnya sudah dijual” lantaran mereka bikin lagu Disco “Asshole” Time. Saat itu sedang heboh Goodnight, Upstair, dkk. Malah, sekarang ini saya semakin salto kebelakang 1000 kali permenit, ketika Nidji membuat hitsnya yang berjudul “Shadow” ala MUSE. Identitas apa yang ingin ditonjolkan dari band semacam ini.

Sebagai penikmat hasil karya musik orang di Jogjakarta ini, saya sangat bangga dengan apa yang telah mereka (musisi lokal Jogjakarta) tampilkan/hasilkan. Saya juga bangga dengan apa yang telah SKJ ’94 hasilkan, yakni perdebatan seru para punggawa musik lintas genre dan menghidupi abang-abang tukang stiker “Fuck SKJ ’94”, walaupun sedikit malu ketika mendapati kenyataan bahwa mereka adalah band asal Jogjakarta.

Ketika Nidji masih mendapat tempat, maka semakin banyak bermunculan band2 banal reaksioner semacam SKJ’94 dkk. yang mungkin sebenarnya sangat bisa berkualitas apabila mereka me-merdeka-kan mainstream bermusik mereka, yang membuat mereka “ada” karena mereka bermain musik.

nb : jujur, saya belum pernah liat aksi elektrik mereka a.k.a SKJ ’94 secara langsung, jadi mungkin tulisan ini agak hiperbol, lebay, ahistoris, subyektif dan agitatif.,

*tulisan ini dibikin karena saya sangat sayang kepada SKJ ’94 dan someone yang lagi ada di somewhere yang sedang main some-gong sambil ngrokok Dji Some Soe🙂

%d bloggers like this: