Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

percaya nggak, kalo kita kelewat gelisah dan larut dalam kegalauan hidup, rupanya hidup akan menjadi semakin ceria dan bahagia. benarkah ? nggak tau juga sih, tapi coba dengerin deh, Mum sama Efterklang, dua band yang mungkin berbeda genre. nggak tau juga sih genre apa, mungkin lebih kayak bjork atau bisa juga digolongkan dalam shoegaze tapi versi etnik.

apabila kita mencermati kegelisahan dalam warna musik mereka –Mum dan Efterklang– ada sebuah perbedaan yang sangat mencolok, yakni dalam hal penggarapannya. Mum menawarkan sebuah kegelisahan murni yang berteriak-teriak, semacam ingin keluar dari dalam diri kita, lalu mengajak kita berdansa dengan kegelisahan itu sendiri. ditambah lagi dengan suntikan karakter vokal “palsu” yang semakin membawa kita pada kegelisahan yang ditawarkan oleh Mum lewat musik yang mereka bawa.

lain lagi dengan Efterklang. band eksperimental asal Denmark ini menawarkan sebuah musik yang lebih terang, ketimbang Mum. menggunakan konsep orkestra pada hampir semua lagunya, Efterklang semacam ingin meleburkan dua hal yang kontradiksi, yakni kemeriahan yang sebenarnya adalah selaras dengan kegelisahan yang muncul. ketika Mum menggambarkan kemeriahan adalah hasil akhir dari kegelisahan, Efterklang justru menggambarkan kegelisahan dan kemeriahan itu adalah satu hal yang melekat erat, tidak ada batas diantara keduanya.

coba deh, putar lagunya Mum yang The Ghost You Draw On My Back. abis itu langsung geber lagunya Efterklang yang judulnya Cutting Ice To Snow. kedua lagu tersebut, kalo dihayati hampir mirip, dan tentunya menawarkan kegelisahan buat yang ndengerin. minimal kita gelisah, lagu macam apa sih ini : ) tapi, dari segi komposisi, Mum jelas lebih gelap, dikuatkan dengan karakter vokalnya. ditambah lagi, kemampuan band-band asal Islandia untuk membuat lagu-lagu gelap semacam ini tidak diragukan lagi (sigur ros, bjork) sedangkan Efterklang, terkesan lebih ceria dalam menggarap lagu ini, yang sebenarnya output yang sampai pada perasaan pendengarnya adalah kegelisahan.

Efterklang, pada album Parades, hampir semua lagu yang ada begitu meriah. Polygyene, Mirador, Him Poe Poe, Horseback Tenors, Mimeo, Frida Found A Friend, Maison de Reflexion, Blowing Lungs Like Bubble, Caravan, Illuminant, dan terakhir Cutting Ice To Snow, secara gamblang dibalut suasana pawai. sedangkan Mum lewat albumnya yang diberi tema Summer Make Good, justru kebalikannnya. Hu Hviss, Weeping Rock, Nightly Cares, We Have A Map Of The Piano, The Ghost You Drawn On My Back, Stir, Sing Me Out The Window, The Island Of Children’s Children, Away, Oh How The Boat Drifts, Small Death Are The Saddest, Will The Summer Make Good, dan Abandoned Ship Bells, secara umum hampir sama, sampai-sampai mungkin kita tidak sadar bahwa lagu tersebut sudah berganti ke lagu berikutnya. mungkin karena semua lagu dalam album ini sangat “sepi”.

kesimpulannya, dua band diatas memiliki karakter yang sangat kuat. sehingga ketika kita mendengarkan lagu-lagu mereka, kita tidak hanya mendengar, terhibur, dan kemudian berlalu begitu saja. namun, ada sebuah pertanyaan yang mampu membuat kita berpikir, membuat kita terhenyak, dan menohok tenggorokan kita yang memaksa kita untuk terdiam menghayati hidup yang sangat asshole ini. meskipun hanya lewat media musik.

hip hip horray !

%d bloggers like this: