Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

ayahku bilang, jangan pernah berpikir untuk berteduh ketika hujan mengganggu jalan pulangmu. diantara air yang bergerincik ada suara ibumu untuk menuntunku pulang. ketika hujan berhenti, air itu malah berbalik menjebakmu, dia menggenang, dia membuat jalan pulangmu becek, lantas membuatmu malas pulang. berteduh hanya semacam melahirkan berlembar-lembar surat tilang diatas meja makan, mereka saling menunggu untuk disidangkan, dan mereka akan terus saling menunggu seperti kamu dan ibumu saling menunggu, seperti aku dan ibumu saling menunggu, seperti kita berdua saling menunggu, saling menunggu sebuah persidangan diatas meja makan. jangan pernah kamu memakai payung, dia munafik semacam ingin bersahabat dengan hujan, tapi tidak mau menolong hujan membantumu menemukan jalan pulang biarkan hujan mencetak rute diatas bajumu yang basah dan tembus pandang dan pandangilah rintik-rintik gerimis yang jatuh ke tanah, mengalir kedalam selokan biarkan mereka membasahi ujung sepatumu yang kering, biarkan saja seperti itu. ayahku hanya bisa bilang, bila hujan selalu saja bisa menemukan cara membuatmu pulang ayahku hanya bisa bilang sambil bersungut-sungut didepan emperan toko, memanggil-manggil bocah kecil pengojek payung. ah, mungkin dia sudah pikun. mungkin dia sekarang sudah dirumah, atau tersesat karena hujan

Juli, 2009

%d bloggers like this: