Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

“Setiap tempat, adalah sebuah panggung” begitu kira-kira yang menjadi jargon Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER), sebuah jaringan pekerja seni dan budaya yang digagas oleh Widji Thukul dan beberapa orang kawannya pada sekitar tahun 1993. Seperti yang pernah disampaikan Soekarno, yang paling penting dalam membangun sebuah bangsa untuk menjadi bangsa yang besar adalah pembangunan sebuah karakter bangsa yang kuat. Bagaimana agar sebuah bangsa memiliki karakter yang kuat, yaitu lewat budaya bangsa itu sendiri. Budaya adalah hasil dari daya cipta/daya kreatif manusia-manusia yang berada didalam sebuah lingkungan tertentu, dan karena setiap budaya yang muncul sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek, salah satunya lingkungan, maka sebuah budaya yang muncul pada suatu wilayah akan berbeda dengan wilayah yang lain. Bayangkan, negara ini memiliki berapa ratus budaya, dan seharusnya bisa menjadi tolok ukur kemajuan negara ini.

Kembali pada jargon JAKER diatas, seharusnya jargon ini tidak hanya berhenti pada sebuah wacana saja. Jargon tersebut memiliki sebuah semangat besar dibaliknya, yakni semangat berkreatifitas tanpa henti, sehingga dimanapun kita berada, disitulah terdapat sebuah ruang untuk mengaktualisasikan diri kita, entah bagaimana caranya. Dalam kaitannya dengan tulisan ini, ruang publik (jangankan di Indonesia) di Jogjakarta sudah semakin memprihatinkan. Halte bus di kota ini bahkan bisa kita hitung dengan jari sebelah tangan, halte yang ada pun kumuh, penuh coretan dan beralih fungsi. Telepon umum bahkan sudah tidak ada, kalaupun ada itu sudah rusak. Taman kota sudah tidak menarik untuk dikunjungi, dan beralih menjadi pelampiasan hasrat seksual. Mall atau pusat perbelanjaan yang sedianya merupakan sebuah ruang publik yang kontemporer, malah menciptakan sebuah kelas sosial.

Ruang publik yang ada, seharusnya bisa menjadi sebuah wujud kebudayaan sebuah masyarakat. Ketika semua ruang tersebut hilang, tidak terawat dan beralih fungsi, apakah masih bisa, kita (sebagai bagian dari masyarakat) disebut sebagai manusia yang berbudaya. J.J. Hoenigman (sebagaimana saya kutip dari wikipedia) menyebut aktivitas, sebagai suatu tindakan terpola dari suatu masyarakat adalah sebuah wujud dari kebudayaan. Lantas, apakah kebudayaan yang ingin kita tampilkan adalah kebudayaan “mengenaskan” seperti yang termanifestasikan didalam ruang publik kita. Bagaimana bisa membangun Indonesia menjadi sebuah negara maju, apabila manusia-manusia didalamnya masih belum bisa berkebudayaan, manusia-manusia yang sembrono, reaksioner, brangasan, usil, celele’an, masih belum di up-grade.

Ambient Media

Ambient media adalah sebuah istilah dunia advertising sebagai bentuk pembaharuan atas cara-cara beriklan konvensional. Ambient media sendiri muncul pada tahun 1999 di Inggris. Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, ambient media mulai banyak digunakan oleh para pegiat industri periklanan. Secara harfiah, ambient media merupakan sebuah cara menawarkan suatu produk kepada konsumen, melalui media-media yang berkaitan dengan lingkungan. Bisa juga ditarik sebuah kesimpulan, bahwa ambient media (iklan) ini berusaha “bersetubuh” dengan apa yang menjadi medianya. Sebagai contoh, nike membuat branding pada sebuah tempat sampah umum, sehingga terkesan tempat sampah tersebut adalah keranjang basket. Ambient media ini terbukti efektif, disamping mempercantik tata ruang kota, dalam hal mencuri perhatian publik.

Masyarakat, dalam hal ini adalah sebagai target pemasaran, sudah terlalu bosan dengan iklan-iklan yang hadir didalam koran, disela-sela acara televisi yang memiliki rating tinggi, didalam neonbox, billboard (yang malah cenderung menjadi sampah visual). Kini, dengan hadirnya ambient media, masyarakat menjadi tidak sadar bahwa mereka sedang berusaha dibujuk untuk berlama-lama melihat iklan. Bandingkan dengan iklan yang berada disela-sela acara televisi yang memiliki rating tinggi, pemirsa tentu lebih senang mengganti chanell untuk sesaat dan beralih ke acara lain, daripada memilih untuk menyimak iklan yang begitu banyaknya. Hal ini disebabkan, ambient media secara langsung berinteraksi dengan publik, dan berada diantara mereka. Berbeda dengan iklan konvensional yang terkurung didalam layar kaca, terpenjara dalam koran, neonbox, billboard, dll.

Ambient media memberikan sebuah memorable experience kepada konsumen, dan hal ini menjadi sebuah keuntungan terhadap produsen yang memasarkan iklannya melalui ambient media. Sebuah iklan akan menjadi lebih menarik ketika berhasil menciptakan sebuah interaksi antara iklan tersebut dengan masyarakat atau konsumen. Sebuah halte bus yang disulap oleh Mc’Donalds sebagai tempat pemesanan makanan misalnya, menawarkan sebuah ruang yang berbeda kepada masyarakat yang sedang menunggu datangnya bus kota. Masyarakat yang sedang menunggu bus kota, seolah-olah disetting sedang berkunjung dan memesan makanan di Mc’Donalds. Hal ini tentu akan lain, apabila Mc’Donalds hanya memasang poster atau banner pada sebuah halte bus tersebut, karena masyarakat hanya akan melihat saja dan kemudian akan lupa terhadap iklan tersebut.

Ambient Media : Sebuah Formula Menghidupkan (Kembali) Ruang Publik

Sepertinya, semangat ambient media sebagai sebuah terobosan didalam dunia advertising, patut diserap sebagai upaya membangun kembali ruang publik kita yang memprihatinkan. Bagaimana cara menyulap ruang-ruang tersebut agar berfungsi sebagaimana mestinya. Ketika masyarakat sudah bisa menggunakan dan menjaga ruang-ruang tersebut sebagaimana mestinya, maka akan tercipta sebuah keteraturan dan kenyamanan. Masyarakat akan merasa terhibur ketika berada ditengah ruang-ruang tersebut. Ketika masyarakat merasa terhibur, maka ruang-ruang tersebut akan hidup dan berguna.  Ketika ruang-ruang tersebut hidup, maka akan tercipta sebuah interaksi antara ruang publik dengan masyarakat yang sedang berada diantaranya. Bukankah hal ini baik dan sangat menunjang dalam proses perbaikan tindakan masyarakat terhadap sebuah ruang publik. Apa yang menjadi semangat ambient media bisa ditarik sebuah persamaan dengan jargon JAKER, yakni setiap tempat adalah panggung.

Kita bisa berekspresi secara bebas, dan mengeluarkan hasrat seni dan daya kreatifitas yang ada didalam diri kita, ketika kita berada di dalam ruang publik. Bukankah ruang publik memang diciptakan untuk kebutuhan semacam itu. Bayangkan, apabila perupa di Indonesia menyulap halte bus, telepon umum, taman kota, wc umum, bahkan pusat perbelanjaan sekalipun, menjadi sebuah space/ruang yang menarik. Bayangkan lagi, apabila bengkel-bengkel kesenian/kelompok-kelompok teater mengadakan acara rutin di jalan raya, tentu dengan format yang sederhana. Apabila semua itu terwujud, maka sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh pegiat seni dan budaya di Jogja ini akan sangat mudah diterima oleh masyarakat luas. Sebuah pesan yang selama ini hanya berkutat diatas panggung, kanvas, kertas, batu, tanah, dll.

Tentu saja ketika kita berbicara masalah ruang publik, akan berbenturan dengan bebragai birokrasi yang ada didalam pemerintahan. Pemerintah sebagai pemberi izin penggunaan fasilitas umum, seharusnya sudah mulai terbuka cakrawala berpikirnya, tentang bagaimana memanfaatkan ruang publik agar layak dan tidak beralih fungsi. Apalagi di Jogjakarta, yang mendapat julukan kota budaya ini, seharusnya sangat mudah dalam hal mendapat izin dari pemerintah setempat, untuk membuat sebuah acara seni dan budaya dimanapun tempatnya. Semakin banyak acara seni dan budaya semakin bagus bukan, apalagi bila diadakan di jalanan atau ruang-ruang publik yang ada, yang selama ini hanya terpenjara didalam panggung dan galeri, yang hanya menciptakan image bahwa acara tersebut hanya untuk orang yang “ngerti” seni.

*Beni Satryo

: contoh ambient media yang saya kumpulkan dari internet


 

%d bloggers like this: