Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Apa yang bisa anda deskripsikan ketika mendengar istilah “alay”? Beberapa sumber yang saya peroleh dari google berikut (keyword: alay) mungkin bisa membantu anda, jika anda baru pertama kali mendengar istilah ini. Contoh :

  • seseorang yang gemar mengganti huruf/karakter ketika sedang sms’an dengan seseorang lainnya (iya –> ea, lucu–> lutchu, gue–> w, elo–> l, makan–> mumphs, dsb)
  • sebuah singkatan “anak layangan”, yakni seseorang yang digambarkan berkulit hitam matahari dan rambut terbakar matahari)
  • identik dengan musik emo dalam hal berdandan, meski (katanya) gak tau apa-apa tentang emo.
  • norak dan berlebihan (nge-mix baju gak pake perhitungan –tafsiran saya, bergaya nggak pas dan tidak memperhatikan warna kulit, proporsi tubuh, dan bentuk wajah dalam hal berpakaian– baju ijo, celana kotak-kotak berwarna mencolok, kacamata biru dsb)
  • menggoda perempuan di mall (lelaki) sok risih padahal suka digoda (perempuan)
  • “mustang” baca: masteng, artinya mas-mas tengik (entah apa konotasinya, kurang jelas)
  • seseorang yang hobinya balap liar, tawuran sekolah ataupun antar kampung

Contoh wujud alay :

boleh dibilang alay "versi Beni & Mice"

contoh teks alay

wujud alay versi internet :bingung

masuk alay gak?

Beberapa ciri tersebut merupakan (menurut saya) adalah ciri-ciri umum, dan berikut adalah ciri-ciri yang lebih khusus, yakni dalam hal Friendster dan Facebook. Contoh :

  • friendster penuh glitter
  • nama friendster/facebook dibubuhi semacam gelar, misalnya : tiKa cHute, ayOe lutcHu, dEsii cHantiQue, dsb
  • friendster dan facebook sebagai sarana mencari perempuan2 cantik atau lelaki cool dan macho. misal : tHanKs vo aPp, bTw kuLz dmN neEch? tHanKs udd add, dsb.
  • penulisan testimoni dan atau wall comment menggunakan huruf gede kecil dan sedikit modifikasi penulisan.
  • Kata singkatan selalu diakhiri huruf z/s. Misalnya : nama Taltira menjadi talz, atau nama Niken menjadi qenz.

Sebenarnya masih banyak sekali ciri-ciri yang disebutkan, namun beberapa saya sortir karena ada yang kurang masuk akal dan cenderung merendahkan. Padahal, belum tentu orang yang membuat blog, grup, atau semacamnya yang menjabarkan alay tersebut, terhindar dari sifat atau perilaku yang merujuk pada alay tersebut (sebagaimana yang telah ditulisnya secara detail). Untuk itu, saya mencoba mendeskripsikan pengertian alay sebagai sebuah fenomena, reaksi, gejala dari (katakanlah) urbanisasi dan atau modernisasi, mungkin juga globalisasi. Bukan sebagai suatu diskriminasi atau sebagai bahan olok-olok atau merendahkan.

Alay : Sebuah Transformasi Gaya Hidup dan Pencarian Identitas

Merujuk pada ciri-ciri yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya, secara implisit alay mengarah pada sebuah kesimpulan umum, yakni kaum urban. Kaum urban adalah anak kandung dari urbanisasi. Urbanisasi adalah persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan, bukan perpindahan penduduk dari desa ke kota.[1] Perpindahan penduduk dari desa ke kota hanya merupakan salah satu penyebab proses urbanisasi, disamping pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan, perubahan status suatu wilayah, perluasan wilayah, dll.

Alay, hanya salah satu dari produk-produk urbanisasi seperti halnya tingkat kriminalitas yang tinggi, kemacetan, munculnya slump area, dan ini disebabkan oleh daya tarik/pesona kota yang begitu menyilaukan. Kemudahan akses transportasi, pendidikan, informasi, kesehatan, lapangan kerja adalah beberapa faktor yang menjadikan orang-orang desa ingin tinggal di kota. Maka, orang-orang desa ini ketika menginjakkan kakinya di kota, serta merta mereka mengubah gaya hidupnya. Salah satunya adalah pola konsumsi. Pola konsumsi merupakan penanda identitas (Douglas & Isherwood) yang didasari oleh asumsi bahwa barang-barang konsumsi merupakan alat komunikasi (Goffman, 1951).[2] Pola konsumsi orang yang tinggal di desa tentu jauh berbeda dengan orang yang tinggal di kota. Oleh karenanya, orang-orang ini mau tidak mau harus menyesuaikan dirinya, apabila ingin dianggap “ada”.

Ada sesuatu yang begeser, ketika konsumsi dikaitkan dengan gaya hidup, yakni hasrat mengkonsumsi suatu barang/jasa dianggap bukan sebagai pelengkap, namun sudah masuk sebagai “penanda” kehadiran seseorang. Misalnya, model handhpone yang selalu saja berubah, meskipun fungsinya tetap sama, akan terus mendapatkan konsumen, karena dengan begitu handpone demikian ini dianggap mewakili jaman. Begitupun yang mewakili proses pencitraan seorang alay, ketika proses konsumsi menjadi sesuatu yang tidak berguna, dan hanya dianggap sebagai media untuk memunculkan eksisitensinya. Alay, secara sadar atau tidak sadar,  berusaha menciptakan identitas baru supaya mereka bisa diakui sebagai bagian dari sebuah kota, minimal menanggalkan identitas lamanya sebagai orang kampung. Ada sebuah konsekuensi yang mau tidak mau harus diterima, yakni ketika mereka (alay) tengah mengaktualisasikan diri mereka, mereka malah menciptakan sebuah kelas baru dalam masyarakat. Mereka, sadar atau tidak, memposisikan dirinya diantara orang kota dan orang kampung.

Alay : Sebuah Kelas Baru

Terbentuknya sebuah kelas baru didasarkan pada sebuah kemunculan suatu struktur sosial yang menghubungkan antara individu yang saling terpisah, dengan adanya komunikasi dan interaksi serta kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh anggotanya. Kesamaan tersebut bisa berupa status ekonomi, pekerjaan, dan kepemilikan (seperti yang dijelaskan oleh Karl Marx). Alay sendiri merupakan penggolongan berdasarkan persamaan tingkah/reaksi/pola/perilaku yang melekat pada dirinya. Posisi alay yang berada ditengah-tengah orang kota dan orang desa, didasarkan pada penggolongan tersebut. Apa yang menjadi perbedaan orang kota dan orang desa. Sebagaimana saya kutip dari yahoo answers, secara umum perbedaannya terletak pada pola berpikir dan gaya hidup. Alay sendiri sudah mendekati gaya hidup orang kota, namun masih belum menuju pada pola pikirnya. Pola pikir sangat menyangkut dan berkaitan pada tingkah laku/perilaku seseorang.

Terbentuknya alay sebagai sebuah kelas baru, tidak bisa dihilangkan dari kesepakatan pencitraan masyarakat kota. Masyarakat kota semacam menjadi eksekutor atas pem”branding”an alay ini. Dalam buku komik seri Lagak Jakarta karya duo Benny & Mice yang bertajuk “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta” misalnya, sosok anak gaul (model rambut berubah ngikutin trend, kaos skater palsu, boxer yang sengaja diperlihatkan, celana hypster, mp3 buatan China berisi lagu-lagu ST12, Kangen Band, jam tangan puma palsu, dll) yang digambar begitu melekat dengan alay. Kemudian sosok mas-mas mudik, yang secara penampilan hampir sama dengan sosok anak gaul. Penggunaan istilah “rambut ala mas-mas” merupakan istilah yang cukup untuk menggambarkan sosok alay.

Lantas muncul sebuah pertanyaan, apa bedanya alay dengan orang kampungan. Kampungan mengacu pada pengertian ketinggalan jaman, entah itu orang yang tinggal di kota ataupun (apalagi) orang yang tinggal di desa. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan informasi yang diperoleh masyarakat desa sangat terbatas dibanding masyarakat kota. Alay berbeda dengan kampungan, meskipun hampir sama. Alay lebih mengarah pada pola konsumsi orang-orangnya, bukan dalam hal ketinggalan jaman. Pada suatu titik, alay dan kampungan memang melekat (mereka sama-sama orang kampung dengan pola pikir relatif sama), namun disisi lain mereka berbeda (hasrat mereka untuk menunjukan keberadaannya, kaitannya dengan pola konsumsi). Kesimpulannya, alay adalah orang kampungan dengan kondisi ekonomi lebih baik.

Kesimpulan

Alay merupakan salah satu dari berbagai fenomena sosial yang terjadi di negara ini, khususnya kota-kota besar. Hal ini tidak terlepas dari gencarnya globalisasi, dan globalisasi memicu terjadinya “perang budaya”. Terus terang, budaya asli kita sudah kalah (mau tidak mau harus mengakui). Perubahan perilaku masyarakat kota-kota besar dan pola konsumsi (konsumerisme) yang semakin menggila, adalah salah satu indikatornya. Kota, sebagai sebuah wilayah yang menawarkan berbagai akses sosial, mendorong masyarakat-masyarakat “bukan” kota ingin hidup di kota, dengan harapan mendapatkan akses tersebut. Secara tidak langsung, mereka melibatkan diri dalam “perang budaya” tadi, belum lagi hasrat mereka untuk menampilkan diri (mengaktualisasikan diri).

Seharusnya, keberadaan alay bukan untuk dicemooh, diolok-olok, dimarginalkan sebagaimana marak dilakukan didalam Facebook. Keberadaan mereka seharusnya menjadi cermin masyarakat kota, bahwa mereka muncul sebagai reaksi atas gaya hidup atau pola konsumsi yang menggila, yang dipraktekan oleh masyarakat kota itu sendiri. Masyarakat kota adalah sebuah acuan bagi alay supaya keberadaannya (alay) bisa diakui. Mungkin, masyarakat kota sudah cocok dan mampu “beradaptasi” dengan pola dan gaya hidup demikian, karena ditunjang oleh pola pikir yang lebih maju. Tidak demikian dengan alay, mereka hanya meniru dan meniru, sementara pola pikirnya tidak berkembang.

Alay, ketika dihubungkan dengan selera, sungguh sangat naif apabila itu menjadi sebuah bahan olok-olok. Misalnya, baju yang mereka kenakan tidak matching atau norak, gaya rambut yang berlebihan, selera musik mereka, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Seperti penjelasan diatas, mereka hanya mau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (kota), supaya tidak di”brand” kampungan (ketinggalan jaman) padahal mereka sudah hidup di kota. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah apa salah alay sehingga menjadi sesuatu yang negatif dan seolah-olah orang kota tidak menerima keberadaannya?

oOo


[1] http://robbyalexandersirait.wordpress.com/2007/10/05/urbanisasi-mobilitas-dan-perkembangan-perkotaan-di-indonesia/

[2] Sebagaimana saya kutip dari Prof. Dr. Irwan Abdullah, dalam tulisannya yang berjudul Transformasi Ruang, Globalisasi dan Pembentukan Gaya Hidup Kota ( Simposium Ilmu-Ilmu Humaniora III, Fakultas Sastra UGM, 1996)

Tags: , , , , , ,

%d bloggers like this: