Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Do you speak English fluently? do you proud of it? I am not. Because, not only my TOEFL score was decreased from 560 to 470 and I am not speak English fluently, but also English makes me separating from my own country. For example, I have to write the abstraction in my skripsi (such a thesis) in English, but actually I am an Indonesian. Once in a day, my friend give me a mocking smile when he was heard me speaking, in English. Why? It is just because my false pronounciation. Then I told him, sarcastically, if I have a friend from DC who learning Indonesian. At the first time we meet, he was very hard to spell “komputer”, in English “komputer” is “computer” and pronounce with “kompyute”. Many times Dadang, my friend from DC, pronouncing “komputer” with “kompyute” and it is clearly false with Indonesian pronounciation. Maybe you can tolerate Dadang, because he was not Indonesian people, he’s just stranger who learning our language. But, can you tolerate me or another Indonesian people who getting hard to pronouncing English words, clearly and fluently. I guarantee, absolutely can not. Why? Because Indonesian language is “under” the English. Just like “lo gue” language which is a superior language than another language in Indonesia (such as Javanesse, Sundanesse, Madura, Batak, etc)

Melelahkan juga menulis menggunakan bahasa “Inggrais”. Selain harus berpikir apa yang harus kita tulis, kita pun harus memilah-milah kata apa yang tepat untuk menunjukan maksud dalam otak kita (yang pasti berbahasa Indonesia) dan kemudian mentransfernya ke dalam bahasa “Inggrais”. Dua kali kerja bukan? Sebal. Toh, tulisan ini tidak saya tujukan kepada orang-orang “Inggrais”, namun kepada kawan-kawan pembaca dari Indonesia, yang gandrung terhadap bahasa “Inggrais”. Apabila kebetulan ada orang “Inggrais” atau orang asing yang mau membaca tulisan ini, ya silahkan terjemahkan sendiri. Buat apa saya menjadi “pelacur” bahasa, bersusah payah menerjemahkan tulisan ini, sedangkan mereka yang butuh untuk tahu apa konteks tulisan ini.

Butuh. Sebuah kata yang mengandung konotasi keharusan akan sesuatu, dan harus terpenuhi. Dalam tulisan kali ini saya akan membahas kebutuhan dalam konteks bahasa, yakni bahasa “Inggrais”. Apakah yang dirasakan oleh orang-orang sedunia ini adalah sebuah kebutuhan akan bahasa “Inggrais” atau karena keterpaksaan terhadapnya. Terserah pendapat saudara []

Pengantar

Judul dan paragraf pertama sengaja dibuat dengan bahasa Inggris, tanpa tendensi apapun, melainkan proses pembelajaran saya yang “terpaksa” terhadap bahasa Inggris. Saya belum pernah menulis artikel apapun dalam bahasa Inggris, dan akhirnya saya memilih untuk tidak akan pernah menulis artikel dalam bahasa Inggris, jika saya tidak terlalu membutuhkannya. Halaman ini juga bukan halaman terjemahan dari paragraf pertama yang notabene menggunakan bahasa Inggris.

Bahasa Inggris : Kebutuhan Di Dalam Sebuah Keterpaksaan

Di jaman modern dan era globalisasi saat ini, seseorang yang dikatakan buta huruf bukan lagi orang yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak paham pengoperasian komputer dan tidak bisa berbahasa Inggris. Kira-kira begitulah anekdot yang terlontar dari seorang pembicara di sebuah seminar yang membahas masalah teknologi informasi. Sungguh ironis memang, ketika kenapa kita harus bisa berbahasa Inggris sedangkan kita bukan orang Inggris, misalnya.

Bukan bermaksud menjadi seorang yang fanatik terhadap Nasionalisme, namun bukankah menjadi lucu ketika bahasa Inggris seolah-olah menjadi bahasa yang begitu superior dibanding bahasa negara-negara lain. Bukankah posisi bahasa Inggris adalah sama dan sejajar dengan bahasa lain yang ada ketika kita berbicara bahasa adalah sebuah produk budaya. Lalu, kenapa ada seorang seniman yang membuat penjelasan karya-karyanya lewat bahasa Inggris. Bukankah ketika sebuah karya yang dibuat oleh seorang seniman (contoh Indonesia), dijelaskan menggunakan bahasa asing secara tidak langsung akan melunturkan keaslian karya itu sendiri. Karya tersebut dibuat di sebuah wilayah (contoh Indonesia) dan tentunya dipengaruhi oleh kultur yang ada. Kultur tersebut yang nantinya akan menjadi identitas karya itu sendiri, dan ketika itu dipublikasikan atau dijabarkan dengan bahasa asing, maka otomatis karya tersebut sudah tidak otentik lagi. Kenapa? Karena ada kultur asing yang ikut berperan dalam pembentukan identitas karya tersebut. Lain halnya ketika karya itu dibiarkan saja utuh tanpa ada penjelasan apapun dalam bahasa asing, melainkan bahasa lokal, maka karya tersebut menjadi lebih otentik. Apabila ada orang asing yang ingin mengenal karya tersebut, maka orang tersebut harus belajar bahasa lokal, yang digunakan untuk menjelaskan karya tersebut. Masuk akal bukan?

Lantas bagaimana seniman tersebut bisa maju, ketika dia mempersempit ruangnya sendiri dengan tidak mau menjelaskan karyanya tersebut dalam bahasa yang lebih universal. Coba kita lihat Sigur Ros, sebuah band yang lirik lagunya menggunakan bahasa Islandia, atau komik-komik berbahasa Jepang yang akhirnya tetap bisa mendunia. Kedua contoh tersebut saya rasa bisa menjadi sebuah pembenaran atas perlu tidaknya kita mempublikasikan karya kita atau apapun kedalam bahasa yang lebih universal. Sigur Ros tetap mendunia, bahkan lirik-liriknya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh orang-orang yang membutuhkannya. Komik-komik Jepang tetap terkenal meskipun ditulis dengan bahasa Jepang. Artinya, bahasa universal (bahasa Inggris) bukan merupakan suatu kebutuhan mutlak agar karya kita terkenal di dunia. Ada bahasa-bahasa informal yang bisa menjelaskan karya-karya tersebut, dan yang paling penting kekuatan karakter sebuah karya yang akhirnya bisa membuat orang asing ingin menggali lebih dalam, sekalipun karya tersebut tidak ditulis dalam bahasa Inggris.

Karakter Sebuah Budaya

Sebenarnya bahasa manapun bisa menjadi bahasa yang universal, bahasa yang semua orang di dunia ini mengerti. Caranya adalah dengan membangun sebuah karakter yang kuat dalam konteks nasional. Sebuah negara akan maju pesat apabila dimulai dari pembangunan karakter yang kuat, terutama dalam hal budaya. Budaya adalah suatu produk yang paling otentik yang dimiliki oleh suatu bangsa. Apabila karakter budaya suatu bangsa sudah kuat maka budaya bangsa tersebut akan menarik perhatian dunia. Apabila perhatian dunia sudah tertuju pada budaya tersebut, maka mereka akan mempelajarinya. Untuk mempelajari sebuah budaya sudah tentu harus paham betul bahasa yang digunakan oleh budaya itu sendiri. Bahasa merupakan akses penting dalam mempelajari sebuah budaya, entah itu wujudnya dalam bentuk formal maupun informal. Pada kasus bahasa Inggris, bahasa ini menjadi universal lebih kepada unsur Kolonialisme yang bersemayam didalamnya. Klaim Anglo Saxon sebagai bahasa yang paling tua digunakan sebagai pembenaran atas penjajahan bahasa-bahasa lain, dan akhirnya berujung pada penjajahan budaya itu sendiri. Sebenarnya bahasa kita pun bisa menjadi universal, dengan catatan harus menguatkan karakter budaya kita sendiri. Setuju?

Pembangunan Karakter Sebuah Bangsa

Pembangunan karakter sebuah bangsa harus dimulai dari manusia-manusia yang  ada pada bangsa tersebut. Ketika manusia-manusia tersebut sudah di-upgrade, maka akan muncul sebuah budaya yang kuat. Budaya diciptakan oleh manusia, dan budaya sangat tergantung terhadap perilaku manusia tersebut. Manusia bobrok tentu akan menghasilkan budaya yang bobrok pula, begitupun sebaliknya. Supaya lebih menarik, mari kita bicarakan mengenai bangsa kita tercinta ini. Mengapa bangsa yang besar ini seolah menjadi bangsa yang kerdil dan inferior. Mengapa bangsa yang kaya akan budaya ini tidak bisa maju dan selalu saja kalah dengan bangsa-bangsa kecil disekitarnya.

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan budaya. Saking beragamnya budaya yang bersemayam di Indonesia, kita bahkan kesulitan untuk menentukan yang mana yang dikatakan budaya Indonesia, atau budaya nasional. Kawan Pram pernah berkata bahwa Indonesia sama sekali tidak memiliki budaya, yang benar adalah budaya yang ada didalam Indonesia. Misalnya, budaya Jawa, Sunda, Batak, Toraja, dll. Sehingga salah apabila ketika kita melihat suatu budaya yang ada di Indonesia, lantas kita menggeneralisir bahwa budaya tersebut adalah budaya Indonesia. Seharusnya kelebihan budaya ini bisa membawa bangsa ini menjadi lebih bekarakter. Pemerintah saat ini sudah dibutakan dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi, mereka lalai untuk membangun sektor-sektor yang lebih vital ketimbang sektor ekonomi yaitu budaya. Bayangkan, apabila pemerintah berhasil membangun sektor ekonomi, namun lalai membangun sektor budaya, yang terjadi sudah pasti negara kaya ini akan digerogoti oleh moral yang busuk. Negara kaya yang memiliki budaya yang busuk maka tetap saja menjadi negara miskin. Kenapa? Tentu saja karena korupsi dkk.

Bangsa ini masih dipenuhi oleh manusia-manusia yang bobrok. Mochtar Lubis dalam artikelnya yang ditulis di Forum Pranata Humas LIPI menyebutkan secara jelas, manusia-manusia yang menghambat laju perkembangan bangsa Indonesia. Manusia klenik, arogan, kurang integritas, penggerombol, kurang berani mengambil resiko, pengecut, pemarah, etos kerja rendah, adalah beberapa dari banyak contoh yang disebutkan olehnya. Ketika bangsa ini masih penuh sesak oleh manusia-manusia macam demikian, bagaimana bangsa ini bisa berkarakter. Bagaimana bahasa Indonesia bisa menjadi universal.

Kesimpulan

Bahasa Inggris dalam perkembangannya dewasa ini, khususnya di Indonesia, telah mencapai puncak. Menjamurnya tes TOEFL/TOEIC sebagai syarat utama bekerja dan masuk perguruan tinggi adalah sebuah indikator. Bahasa Inggris sebagai sebuah bahasa universal sudah menjadi semacam kebutuhan primer. Namun saya melihat kasus ini, bahasa Inggris sebenarnya bukan sebuah kebutuhan. Kebutuhan sangat lekat dengan pengertian keharusan untuk segera dipenuhi, dan merupakan dorongan yang secara sadar harus dilakukan. Kebutuhan akan bahasa Inggris sebenarnya semu, dan pada kenyataannya, seseorang bisa bahasa Inggris karena “keterpaksaan” bukan kebutuhan. Terpaksa artinya bukan merupakan sebuah kesadaran yang berasal dari dalam diri seseorang, melainkan pengaruh eksternal dari orang tersebut. Mau tidak mau saya harus bisa berbahasa Inggris, demi menunjang pergaulan internasional karena bahasa tersebut adalah bahasa universal. Mau tidak mau saya harus bisa bahasa Inggris, karena saya mau pameran di luar negeri dan supaya bisa mengenalkan karya saya, saya harus lancar berbicara bahasa ini.

Lain halnya ketika andaikata bahasa Inggris tersebut tidak menjadi bahasa yang universal, dan malah bahasa Tagalog misalnya. Sudah tentu banyak orang yang ingin belajar bahasa Tagalog tersebut. Memang analogi tersebut menyalahi aturan-aturan argumentasi yang saya pelajari pada kuliah Logika I, namun minimal analogi tersebut bisa membuat kita berpikir lebih mendalam. Bahasa apapun bisa menjadi bahasa yang universal. Tiongkok sudah hampir mencapai taraf tersebut, ketika kita sama-sama tahu bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa kedua setelah bahasa Inggris. Apabila bahasa kita tidak bisa menjadi bahasa yang universal, minimal bahasa kita mempunyai posisi tawar yang tinggi pada tingkat internasional. Jangan malah melacurkan diri pada bahasa Inggris. Nidji, Slank, Dewa 19 adalah pelacur-pelacur bahasa Inggris yang menjual lagu-lagunya dalam format English version supaya bisa laku di luar negri. Kembali pada analogi pertama tadi, bisa jadi mereka menjual lagu-lagu mereka dalam Tagalog version supaya bisa terkenal. Sampah!

Kita harus percaya pada karya-karya (yang merupakan produk dari budaya) kita untuk bisa bersaing di luar negri tanpa bahasa Inggris. Tentu saja dengan tidak asal-asalan percaya diri, namun harus melihat kualitas karya tersebut. Dengan begitu orang asing bisa menjadi tertarik untuk mempelajari budaya kita. Apabila sudah tertarik, otomatis orang asing tersebut mau tidak mau harus mempelajari bahasa kita.

Tags:

%d bloggers like this: