Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

rasanya tidak mungkin menemukan sebuah buku yang isinya mempelajari bagaimana cara menyupir yang baik, karena menyupir adalah sesuatu hal yang sangat teknis, dan lagi metode pembelajarannya hanya efektif dengan cara praktek. namun, ketika saya bermain ke sebuah toko buku, saya menemukan sebuah buku panduan untuk bisa lekas mahir menyupir mobil. bisa ditebak, isinya sangat memaksakan dan tidak ada pengetahuan baru yang didapatkan. berangkat dari peristiwa diatas, saya mencoba merangkumkan apa yang hendak dikatakan buku tersebut, karena saya pikir buku ini bertujuan sangat mulia, plus kiat-kiat ketika kita menghadapi berbagai permasalahan saat kita sedang berkendara.

Menyetir

menyetir adalah sebuah keahlian yang mengandalkan insting yang kuat. sama halnya dengan mengendarai sepeda motor, insting diperlukan untuk mendahului pengendara lain, berbelok, berpindah jalur, memutar, dll. bedanya, mengendarai motor menekankan pada aspek keseimbangan, karena motor adalah kendaraan beroda dua, sedangkan mobil lebih kepada aspek presisi. presisi disini sangat penting, terutama ketika kita hendak memarkirkan mobil kita di garasi atau tempat-tempat umum. saya pikir, ketika seseorang sudah sangat mahir memarkirkan mobilnya, meskipun ditempat yang sempit, niscaya dia sangat mahir pula meliuk-liuk di jalan Gejayan dan jalan Kaliurang pada pukul 4-6 sore, atau jalan Malioboro pada musim liburan.

memarkir mobil sebenarnya mengandalkan logika yang kuat. sebagai seorang mahasiswa Filsafat tentu saja saya sudah sangat mahir terhadap urusan berbau Logika, ditambah lagi saya mengambil matakuliah ini 4 semester berturut-turut (baca : ngulang). kembali pada term memarkir mobil dan logika, mobil itu sebenarnya berbentuk kotak dan memiliki 4 sisi, dan keempat sisi tersebut tidak akan pernah berubah sudutnya. permasalahan klise yang sering dihadapi ketika memarkir mobil adalah ketika kita hendak mundur, seolah-olah bagian depan mobil bergerak kearah yang berlawanan ketika kita memutar stir kearah yang kita kehendaki. misalnya, kita memutar stir kearah kiri, maka moncong mobil akan bergerak ke kanan, begitu sebaliknya. hal tersebut tidak perlu membuat kita menjadi bingun dan seakan hilang arah, kita cukup melihat kaca spion saja. ketika kita mundur dan memutar stir ke kiri, maka lihat spion sebelah kiri, tidak usah memikirkan bagian kanan, karena apabila sisi kiri sudah masuk/bebas maka sebelah kanan juga demikian. begitupun sebaliknya. nggak percaya, coba saja, tapi saya sarankan menggunakan mobil pribadi dan bukan punya teman, dan mobil tersebut sudah diasuransikan, hahaha..

untuk urusan gas dan rem, nah ini lebih kepada insting. biarkan perasaan anda yang bermain disini, agar mobil tersebut bergerak dengan santai dan tidak gajet-gajet, ndut-ndutan, bahkan mati. pertama injak kopling dan rem kemudian posisikan panel/tuas perseneling kepada angka 1 (untuk maju) dan huruf R (untuk mundur), kemudian angkat pedal kopling perlahan-lahan tanpa menginjak pedal gas sama sekali, angkat sampai mobil anda bergetar-getar (1/2 kopling). setelah mobil bergetar-getar, angkat pedal rem perlahan, maka mobil tersebut akan bergerak dan siap untuk diparkirkan (lihat paragraf sebelumnya). berlatihlah setiap hari selama seminggu, maka niscaya anda akan jago parkir. mungkin belum jago, tapi sudah bisa parkir. nah, kalo sudah begitu arahkan mobil anda ke jalan raya, cari spot-spot kemacetan kota, entah itu pasar, perempatan, atau sekolahan pada jam 7 pagi dan 1 siang.

Problem Di Jalan

sebagai seorang pengguna jalan, tentu kita tidak sendirian. yang namanya jalanan kan identik dengan kepentingan umum. berjuta-juta kepentingan bertumpah ruah di jalan raya yang mungkin hanya selebar 20 meter. maka tidak bisa dipungkiri akan ada singgungan kepentingan disini, entah itu salip menyalip, klakson mengklakson, bahkan hantam menghantam. untuk mengatasinya mari kita simak tips untuk menghindari masalah tersebut.

Hindari tatap mata langsung

saya pernah punya pengalaman, ketika saya berbenturan kepentingan di suatu jalan raya di Jogja, didepan sebuah tempat ngopi. saat itu mobil kami hampir berbenturan, karena dia memundurkan mobilnya dengan asik sekali tanpa melihat kebelakang yang notabene mobil saya mau masuk ke sebuah tempat ngopi tersebut. untuk menyadarkan dia, maka saya tekan klakson kira-kira 10 detik lamanya. serta merta orang tersebut turun, entah ngapain. maka saya buka kaca jendela dan bilang “heh, dongok, mundur liat belakang gak sih!”, saya menyergah dengan nada sinis. kemudian orang itu menjawab dengan emosi “liat! lo yang mundur dong, gue mao lewat”. saya tidak menanggapinya, saya menutup kaca jendela, membelokan mobil saya melewati mobilnya dan hendak parkir. ketika mobil kami sejajar, saya mendengar mobil dia menggerung-gerung, dalam hati saya berkata, “wah songong nih anak, ngajak ribut dia”. serta merta saya turun dan menghampiri mobilnya, saya suruh dia buka kaca dan disitulah kami berkontak mata dengan langsung. “heh, ngapain gebar-geber!” tanyaku dengan nada tinggi. “apa’an lagi sih, gue mao mundur”, jawabnya tak kalah tinggi. “kan bisa gak pake nggeber, atau lo emang sengaja ngajak gue ribut, hah!” jawabku lagi, tentu saja dengan sebuah tinjuan mendarat di pipinya “buk”. ketika dia jatuh, tangannya memegang kerah baju saya, sehingga saya juga ikut terjatuh. maka terjadilah pergumulan antara saya dengan orang itu. saya dipiting dan tidak bisa ngapa-ngapain, kebetulan orang itu agak tambun, maksud hati mau membanting, tapi saya gak kuat. “anjrit, gede juga nih orang”, batin saya. akhirnya kami dipisah oleh tukang parkir, dan tak lama kami “terpaksa” berdamai.

nah, dari cerita diatas betapa fatalnya bukan kontak mata langsung. maka tips untuk menghindari kontak mata langsung adalah dengan menggunakan kacamata hitam, sun glasses, entah yang abal-abal ataupun yang asli, terserah anda.

; tips yang lain masih dalam riset, maka tulisan ini akan diupdate terus per bulannya😀

%d bloggers like this: