Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Pernah ke Purwokerto? Kalau belum coba saja kesana, kota kecil yang berada sekitar 240 km sebelah barat Yogyakarta adalah kota yang menarik, lebih-lebih untuk urusan kuliner. Mendoan, sroto, nopia dan kripik tempe mungkin yang paling terkenal diantara yang lainnya. Pernah dengar jalabiya, temlek, awug-awug, ranjem, cimplung, kraca (sate keong), klanting, manggleng, marning, dan masih banyak lagi. Kali ini saya mencoba menyoroti nama beberapa warung makan yang tersebar dari Pabuaran (Utara) sampai ke Teluk (Selatan) dan dari Berkoh (Barat) sampai Kalibogor (Timur). Nama-nama warung makan yang saya temui cukup menarik dan membuat saya tergelitik untuk menelusuri konsep apa yang dibangun disini. Konsep dalam menjual dan menarik para pelanggan tentunya.

Pertama yang saya lihat adalah di jalan Ahmad Yani, didekat BBC (Banyumas Biliard Centre), yaitu sebuah kafe bernama “Bolo Dhewe” yang artinya teman sendiri. Kemudian yang tidak asing lagi bagi para pecinta ayam goreng di Purwokerto adalah ayam goreng “Tantene” yang ada di Karangsalam dan Pabuaran. Lalu, di jalan Brigjend Encung, ada sebuah warung bernama “Warunge Biyunge” yang artinya warung milik  ibu. Kemudian, ada sebuah warung gerobakan, semacam angkringan yang ada di Sumbang bernama angkringan “Kakange” yang artinya angkringan milik kakak. Dari beberapa nama warung tersebut, bisa ditarik sebuah kesimpulan awal bahwa si pemilik warung menawarkan sebuah suasana keluarga yang kental. “Mangan yuh neng warung Biyunge, kencot kiye koh..tenang bae usah bayaran, wong duweke biyunge ikih”. Kalimat tersebut hanya sebuah selorohan, namun minimal ada sebuah semangat yang diselipkan yakni jangan malu-malu untuk mencoba makan disana.

Konsep Keluarga dalam Santapan

Apa yang dicari orang selain rasa apabila memilih untuk makan diluar? Tentunya adalah suasana. Suasana keluarga yang hangat saat santap malam adalah bumbu paling dahsyat. Meskipun saya pribadi belum pernah mencoba untuk makan di warung-warung tersebut, namun saya bisa merasakan sebuah konsep keluarga yang ditawarkan. Apalagi keluarga Banyumas, wah jelas suasana makan akan lebih mantap dan berselera. Orang-orang Banyumas terkenal dengan sebuah sikap yang diadaptasi dari tokoh pewayangan yakni Bawor. Bawor memiliki sikap cablaka yang mungkin artinya kalau tidak salah adalah bicara apa adanya. Cablaka dalam konteks ini bisa dikaitkan dengan proses berkomunikasi satu sama lain dalam sebuah keluarga. Belum lagi bahasa yang dipakai adalah bahasa Banyumas yang lebih dikenal sebagai bahasa Ngapak. Menurut sebagian orang, tentu yang bukan orang Banyumas, bahasa Ngapak adalah bahasa yang lucu dan menimbulkan hasrat ingin tertawa. Namun, apabila ditelisik lagi, bahasa tersebut mengandung unsur keakraban dan anti-kelas yang kental pada setiap intonasinya.

Masyarakat Purwokerto, atau Banyumas pada umumnya memang sangat ramah, dalam artian membangun semangat keakraban meskipun terhadap orang baru. Kalau tidak percaya, coba saja ke stasiun atau terminal, pasti anda akan disapa dengan senyum sembari ditawari “arep maring ngendi bos, nganggo becak/ojeg/teksi bae yuh”. Hahaha, dimana-mana pun akan terjadi seperti itu bukan, dan saya hanya berseloroh. Tapi memang benar bahwa orang Banyumas itu sangat ramah, adalah budaya Jawa yang sangat mengakar dan mempengaruhi budaya Banyumas. Bahkan ada beberapa literasi bahwa budaya Banyumas adalah budaya yang sudah sangat tua, bahkan sudah ada sejak jaman Jawa Kuno. Nah, semangat inilah yang diaplikasikan dalam bisnis kuliner di Purwokerto. Dengan pemilihan nama yang sedemikian rupa, seperti yang sudah saya tuliskan diatas tadi, para pemilik warung ingin membangun sebuah konsep keluarga dalam warungnya. Para pemilik warung tadi ingin menganggap si pelanggan sebagai bagian dari keluarga.

Mari ke Purwokerto, karena disana banyak keluarga anda menanti🙂

%d bloggers like this: