Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Beberapa bulan belakangan ini saya sedang on-fire dalam beberapa hal. Salah satunya menghidupkan sebuah organisasi yang pernah besar pada jamannya, yakni BPMF PiJAR. Organisasi ini bergerak dalam bidang jurnalistik. Terus terang saya tidak tahu banyak hal mengenai jurnalisme, namun yang membuat saya semangat untuk menghidupkan organisasi ini ada dua hal. Pertama, PiJAR pernah didiami oleh orang-orang besar dan berkarakter semacam Nezar Patrya (AJI) Yayan Sopyan (perintis Detik.com), alm. Andi Munajat, dan masih banyak nama besar yang pernah berproses didalam tubuh PiJAR. Namun, kemana bekasnya sekarang PiJAR? Atas dasar itu saya merasa memiliki tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa Filsafat untuk mengembalikan kebesaran PiJAR dan menancapkan PiJAR diantara organisasi berbasis jurnalistik kampus-kampus lain. Kedua, sebenarnya ini adalah alasan yang paling tendensius, kenapa saya mau repot-repot mengurus PiJAR.

Adalah alasan kesulitan mempublikasikan karya-karya saya, dalam bentuk puisi kepada dunia. Memang, saya memiliki sebuah blog untuk memamerkan karya-karya tersebut, tapi saya pikir blog sangat tidak cukup untuk menunjang eksistensi puisi saya, ditengah ribuan bahkan jutaan blog-blog lain yang serupa. Maka, diawali dengan pepesan kosong antara saya, B.W. Purbanegara, dan Fardan Hamdani, maka gairah untuk menghidupkan organisasi yang pernah berjaya ini kembali dinyalakan.

Pada awalnya, saya ingin menerbitkan sebuah kumpulan puisinya dalam format digital (baca: online). Sebenarnya, kumpulan puisi tersebut sudah saya cetak melalui jasa fotokopi, dan sudah saya sebar kepada beberapa kolega. Namun, saya lantas berpikir untuk membuat format digitalnya, supaya kumpulan puisi tersebut bisa lebih efektif dalam hal biaya dan pemasaran. Saat itu, B.W. Purbanegara -Mas Popo- menyarankan supaya puisi tersebut diterbitkan dibawah bendera PiJAR, karena saatitu PiJAR sedang mengalami krisis eksistensial.

Maka dibuatlah (waktu itu) suatu kesepakatan untuk menerbitkan kumpulan puisi tersebut dibawah bendera PiJAR, dengan format digital lewat bantuan dari Fardan Hamdani. Untuk tidak mereduksi fungsi PiJAR sebagai badan pers, maka kumpulan puisi saya yang akan berdiri dibawah bendera PiJAR diletakkan pada sebuah (semacam) divisi yang membahas tentang seni dan budaya yakni PiJAR Puitik, selain dari bahasan jurnalistik secara umum (tulisan ilmiah, laporan wawancara, berita-berita seputar kampus dan sekitarnya, dll) yang diletakkan dalam sebuah divisi PiJAR Umum.

Format online dipilih karena pada saat ini, kebutuhan manusia-manusia akan informasi sudah tidak terbendung lagi. Mereka sudah tidak mengandalkan televisi, radio, koran dll sebagai referensi untuk memperoleh informasi. Kehadiran internet yang mampu menembus batasan ruang dan waktu dijadikan primadona dalam hal memperoleh informasi. Kemudahan akses dan tampilan yang atraktif adalah kuncinya.

Format online juga meminimalisir terjadinya berita yang menjadi sampah (secara harfiah), karena orang-orang hanya akan membacanya di layar komputer dan laptop mereka, bukan di kertas-kertas yang hanya menjadi pembungkus nasi, sajadah, bungkus mercon, dll. Apabila mereka tertarik, maka mereka tinggal mengunduhnya saja.Seiring waktu berjalan, saya menghubungi kawan Ferry E. Sirait untuk berdiskusi mengenai PiJAR. Mengingat kawan Ferry pernah menjabat sebagai Ketua Umum PiJAR pada tahun 2002, dan dia pun pernah merencanakan membuat PiJAR berformat online, banyak sekali informasi berguna yang diperoleh dari diskusi tersebut. Dari hasil diskusi tersebut, PiJAR, yang pada awalnya hanya ingin dipancing lewat kehadiran “Pijar Puitik”, kembali dinyalakan secara keseluruhan. Mulai dari pengumpulan arsip-arsip PiJAR yang teronggok di garasi kampus, sampai pada pengurusan web hosting di internet.
Waktu itu saya memilih untuk menerbitkan PiJAR melalui jasa majalah online yang banyak ditawarkan didunia maya, sebelum memiliki web/domain sendiri. Sebenarnya formatnya lebih seperti blog, namun dengan lay-out menyerupai majalah atau terbitan-terbitan sejenis. Awalnya, konten PiJAR hanya saya isi dengan sejarah berdirinya PiJAR (hasil copas dari PiJAR online-nya kawan Ferry) dan sebuah ajakan untuk menulis atau semacam “Call for Paper”.
Sayang, setelah lewat dari batas waktu yang ditawarkan tidak ada satupun tulisan yang masuk. Saya cukup putus asa waktu itu, belum lagi saya telah berdosa kepada kawan Fardan karena membuatnya menungggu dan menungggu untuk membuatkan desain web PiJAR, dan saya kehabisan ide untuk menghidupi PiJAR lewat tulisan-tulisan yang bermutu. Arsip-arsip lama PiJAR juga entah kemana. Disamping itu, saya juga kesulitan mengelola majalah online tersebut, maka saya putuskan untuk memindahkan PiJAR ke wordpress, dengan alasan untuk kemudahan pengelolaan. Di WordPress, saya juga melakukan semacam ajakan untuk menulis, namun hasilnya nol.

Akhirnya, PiJAR saya biarkan saja teronggok cukup lama, sekitar 1 bulan, dalam kepala saya. Sampai suatu hari, saya bertemu kawan Ferry E. Sirait yang akan menggandakan skripsinya tentang Anarkisme dengan halaman yang setebal kardus itu. Dia menanyakan progress tentang PiJAR, dan saya menyampaikan kendalanya. Dari proses tersebut saya mendapat pencerahan untuk kembali menghidupi PiJAR.

Mulai saat itu saya berkeyakinan penuh, bahwa PiJAR akan kembali kepada jalurnya. Kembali melahirkan orang-orang besar ditengah Fakultas yang kerdil ini. Kembali menjadi penerang jalan pikir dan wadah bertemunya ide-ide ultra-super mega brilian dan spektakuler kawan-kawan Filsafat, dan tentu saja kembali menjadi organisasi yang besar dan berkarakter. MERDEKA!!

oOo

%d bloggers like this: