Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Judul : Letters, Stories & Dreams

Jenis : Novel

Penulis : Cassandra Niki

Penerbit : Terrant

Tahun : 2010

Membaca sebuah karya sastra, pasti tidak bisa dilepaskan dari persoalan selera. Entah itu puisi, sajak, cerpen, novel (fiktif maupun kisah nyata) dan karya-karya serupa. Seperti dalam membaca karya ini, persoalan selera tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Permainan selera memang menentukan dalam menikmati sebuah karya, karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kesan yang muncul didalam benak para pembacanya. Namun, yang menarik adalah bagaimana para pembaca bisa menjunjung tinggi obyektifitas dalam melihat sebuah keutuhan karya, sehingga kesan yang muncul bukan lagi baik atau buruk, bagus atau jelek, melainkan sebuah apresiasi atau sebuah penghargaan terhadap penulisnya.

Saya bukanlah seorang penulis buku atau kritikus buku, pengetahuan saya mengenai buku-buku seperti ini bisa dibilang nol. Apa yang membuat saya ingin menulis sebuah review mengenai buku ini ada dua hal. Pertama, ini adalah buku atau karya (sejenis novel remaja atau kumpulan jurnal pribadi) pertama saya. Kedua, saya berada pada sebuah institusi pendidikan yang sama dengan si penulis, dan saya mengenal dia, minimal setelah saya membaca bukunya. Dengan demikian, tulisan ini sama sekali tidak berniat untuk memberi efek apapun terhadap buku ini, selain perayaan yang meriah terhadap kehadiran buku ini.

Secara keseluruhan, buku ini menceritakan sebuah rekaman peristiwa yang dialami oleh penulis selama dua tahun ini. Seperti dalam bagian pertama buku ini yang diberi judul “Untuk Si Bolang”, buku ini secara kontinyu menceritakan kisah-kisah penulis dengan Si Bolang (yang akhirnya disebut Jonas) dan segala hal yang berhubungan dengan mereka. Meskipun ada beberapa cerita tentang masa-masa awal kuliah dan seabrek problematika seputar itu, tetap saja eksistensi Jonas dalam buku ini sangat nyata, karena tanpa ada Jonas dan rekaman-rekaman tentangnya, buku ini tentu tidak akan pernah muncul. Kira-kira seperti itulah intinya.

Namun, ada sebuah hal besar yang bisa ditemukan ketika membaca buku ini. Meminjam istilah Gunawan Maryanto, hari-hari yang menyusun perasaannya sendiri, penulis semacam melewati hari demi hari, bulan demi bulan yang demikian. Perasaan-perasaan yang sudah tersusun tersebut, kemudian menuntun si penulis kepada sebuah hasrat yang sangat dia inginkan, saat itu juga. Apabila saya boleh colongan berpuisi, maka kesan seperti inilah yang saya dapatkan ketika melahap habis lembar demi lembar halaman buku ini. Seperti matahari yang menulis perasaannya sendiri, menuntun garis-garis langit, menjadi guratan cakrawala untuk mematung diujung senja musim penghujan. Byur. Maka, jadilah sebuah peristiwa.

Apa yang paling terpenting adalah, buku ini cukup berhasil menjelaskan identitas penulisnya. Dengan kata lain, buku ini memiliki sebuah karakter yang kuat, entah sebagai hasil karya si penulis atau gagasan estetika yang dibangun. Sehingga, suatu saat ketika ada yang ingin melakukan sebuah riset mengenai pola pikir atau cara pandang remaja-remaja kontemporer, atau modern, atau posmodern (entah kita menyebut jaman apa sekarang ini) terhadap dunia, entah itu mimpi dan cita-citanya, buku ini cukup representatif terhadap jamannya dan bisa dijadikan sebuah referensi.

Semoga semua berbahagia.

%d bloggers like this: