Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Komedi adalah sebuah sejarah panjang. Menurut beberapa sumber, komedi sangat erat kaitannya dengan pertentangan kelas. Pada beberapa literasi, awal mula komedi ditandai dengan turunnnya Dyonisius dari langit karena dihukum oleh Zeus akibat sebuah kesalahannya. Di bumi, Dyonisius berperan penting terhadap keberhasilan masa panen, dan untuk merayakan keberhasilannya tersebut, Dyonisius melakukan pesta pora dan mabuk-mabukan semalam suntuk. Dari kisah tersebut mungkin bisa kita tarik sebuah kesimpulan, bahwa komedi adalah sebuah pelarian atas realitas ke dalam realitas lain, dan disana ada sebuah rasa suka cita yang mutlak. Rasa tersebut, saking mutlaknya bisa jadi berputar secara ekstrim, menjadi sebuah kesedihan dan menciptakan sebuah satire. Hal ini mungkin yang menyebabkan saat kita sedang tertawa terbahak-bahak, bisa jadi kita langsung merasa sedih dan akhirnya menangis tersedu-sedu. Apakah anda pernah merasakan hal tersebut? Saya pernah.

Memang sedikit rumit untuk menelusuri sejarah komedi secara universal, bahkan mungkin diperlukan sebuah penelitian yang memakan waktu , tenaga, dan referensi. Mengingat, komedi adalah suatu hal yang eksklusif, maksudnya bentuk komedi (humor atau selera humor) suatu kelompok, bisa jadi berbeda dengan kelompok lain. Namun, kita tidak akan membahas hal tersebut, karena untuk membahas hal tersebut lebih baik saya letakkan sebagai bahan skripsi, ketimbang disini. Saya lebih tertarik untuk membahas mengenai dinamika OVJ dan Segerr Benerr sebagai sebuah ikon komedi masa kini di tanah air.

Komedi di tanah air saat ini cukup beragam. Parodi politik, lagu, drama situasi, dan banyak lagi model-model lain yang memiliki selera humor yang berbeda-beda pula. Ada yang menganggap sangat lucu, lucu saja, biasa saja, bahkan tidak lucu sama sekali. Misalnya, selera humor saya tidak begitu terpancing ketika melihat sebuah sitkom berjudul OB (Office Boy). Mungkin, untuk kalangan yang sangat akrab dan sering berinteraksi dengan OB akan lain menanggapinya. Bisa jadi mereka terhibur dan tergelak-gelak melihat sitkom tersebut. Namun, ketika membicarakan OVJ dan Segerr Benerr sepertinya selera humor masyarakat Indonesia mulai terlihat seragam, apabila kedua program tersebut mulai naik ratingnya, dengan indikasi begitu lama durasi iklan yang terselip saat program tersebut tayang di layar kaca.

Setelah sebelumnya gaya Tukul (menghina diri sendiri, gestur-gestur khas, merendahkan diri menaikkan mutu, dll) dalam membawakan acara talkshow Empat Mata mampu menghadirkan iklan-iklan yang begitu lama durasinya, saat ini giliran OVJ dan menyusul Segerr Benerr. OVJ mengkudeta gaya humor yang saat itu sedang klimaks, dan “menggantinya” dengan gaya mereka. Kekerasan/brutal/freak/ekstrim atau apalah (saya tidak bisa menemukan kata yang tepat) dijadikan sebuah metode untuk menyampaikan humor, dan memancing selera penontonnya. Di luar negeri gaya tersebut telah lama menjadi sebuah ikon komedi, dan yang saya tahu dan saya penggemar beratnya adalah trio The Three Stooges. Trio ini tidak pernah berbicara sepatah kata pun, hanya mengeluarkan gumaman-gumaman, seperti halnya Mr. Bean. Namun, OVJ menyampaikan dalam bentuk verbal, mereka melawak, mereka “menyiksa”, menghancurkan properti, dll. Entah kenapa, ketika ada subyek yang tersakiti penonton malah menganggap hal tersebut adalah lucu.

Saya pun demikian, mungkin suatu hari nanti saat saya melihat orang yang terpeleset di jalan, atau duduk dan kemudian kursinya ambrol, ada hasrat ingin tertawa sebelum muncul rasa iba. Lain halnya, ketika mungkin saya melihat ada orang disamber kereta diesel atau Mayasari Bhakti, terjun dari lantai 39, atau jatuh kemudian kepalanya pecah. Apabila saya ingin tertawa dan menganggap itu sebagai hal lucu, dalam hati saya akan berdo’a untuk diri saya sendiri, semoga Tuhan selalu menyertai orang-orang yang freak. Amien. Eh, kecuali kasus rokok yang meledak saat dihisap yang terjadi di Bekasi, sampai sekarang saya bingung, harus tertawa atau iba terhadap korbannya.

Selain kekerasan tadi, OVJ juga menerapkan konsep Posmodern dalam penyajian komedinya. Konsep tersebut diterapkan dalam penyampaian cerita dan tata artistiknya. Posmodern disini merujuk pada pengertian ketidakberaturan sebuah konsep itu sendiri, sangat bebas dan tidak kaku. Misal, pada sebuah episode yang menceritakan tentang sebuah zaman kerajaan atau purbakala, disana akan hadir sebuah benda-benda modern semacam telepon umum, mesin ATM, motor trail, dll. Benda-benda tersebut juga berfungsi sebagai sarana kekerasan tadi, yakni akan digunakan untuk melempar, memukul, dll. Selain itu, jalan cerita yang ngawur dan pemain yang bergerak sendiri-sendiri adalah sebuah trade mark dari OVJ. Seolah-olah penonton disajikan sebuah latihan sebelum pentas, yang banyak ditemukan kesalahan-kesalahan jalan cerita, karakter yang gak jelas, dll.

Selain OVJ, pesaing terdekatnya tentu saja Segerr Benerr. Model komedi mereka secara keseluruhan sama, hanya saja konsep Segerr Benerr adalah Lenong (Betawi) dan OVJ adalah Wayang (Jawa). Sebagaimana Lenong, Segerr Benerr selalu menghadirkan sebuah komunikasi dengan para penontonnya, yang beberapa adalah pemain, dan biasanya bentuk komunikasi tersebut adalah berbalas pantun. Segerr Benerr juga menerapkan metode ngawur dalam merangsang selera humor penontonnya. Misal, menyemburkan air ke wajah salah seorang pemain. Segerr Benerr juga mengaplikasikan penghancuran properti yang ada, seperti halnya OVJ. Namun, masih ada saja konsep komedi klasik (jaman dulu) yang masih diterapkan yakni selalu dihadirkan subyek penderita, di OVJ ada Azis Gagap sedangkan Segerr Benerr mempunyai Ohang.

Cerita-cerita yang dihadirkan biasanya tidak pernah orisinil, baik OVJ maupun Segerr Benerr, mereka memparodikan beberapa naskah atau film-film dari barat maupun negeri sendiri. Tentu saja dengan modifikasi yang ngawur tadi. Hampir terlewat, yakni adanya musik pengiring seperti OVJ dengan gamelannya dan menyanyikan lagu-lagu populer yang diaransemen, sedangkan Segerr Benerr lebih kepada mengganti lagu-lagu populer dengan lirik yang disesuaikan dengan jalan cerita yang tengah dimainkan.

Kesimpulannya, dewasa ini sebuah ketidakwajaran (ngawur) menjadi ikon komedi di tanah air. Ketidakwajaran juga salah satu yang termasuk dalam unsur-unsur humor, bukan? Misal, bentuk fisik (kuntet, gembrot, monyong, pongah (ompong tengah), dobleh, caplang, pesek, dan semua ke-ngawuran yang disebabkan oleh Tuhan YME, eh takdir ding) bisa saja dieksploitasi untuk merangsang tawa, seperti yang dilakukan oleh media saat ini. Parodi politik juga menggunakan ketidakwajaran dalam menyampaikan humornya, meski arahnya adalah untuk dijadikan sebuah refleksi, atau bahkan pelarian realitas itu sendiri (Republik BBM dan Democrazy, contohnya). Bangsa ini melahirkan banyak orang lucu, humoris, atau gokil abeeeeezz. Bukan hanya komedian, melainkan teman, tetangga, saudara, sahabat, selingkuhan, pacar, orang tua, guru, pak RT, demonstran (dengan membawa kerbau bertuliskan sibaya menurut saya sangat amat lucu sekali, terlebih SBY menanggapinya). Namun, bukan berarti bangsa ini menjadi bangsa yang ngawur, dan kita sebagai warga negara hanya menikmatinya sambil tertawa terbahak-bahak, hingga berguling-guling.

Atau memang kondisinya demikian? Ups, entahlah. Semoga kita bisa tetap sejahtera dan bahagia dengan tertawa. Amien.

oOo

span.jajahWrapper { font-size:1em; color:#B11196; text-decoration:underline; } a.jajahLink { color:#000000; text-decoration:none; } span.jajahInLink:hover { background-color:#B11196; }

%d bloggers like this: