Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Bagaimana bisa berlembar-lembar sajak ini menjelma sepucuk bibirmu untuk ku pagut. Atau, ketika mereka berhasil menjelma sepucuk bibirmu, bagaimana bisa aku menjelaskan apakah ini yang benar-benar dikehendaki oleh mereka, sajak-sajak itu. Aku mencintaimu, dan cinta ini belum berbentuk. Lantas, apakah aku benar-benar mencintaimu, ketika cinta itu tak memiliki kepala, pundak, lutut, dan kaki. Aku sedang mengikuti cinta, yang sedang bebas bergerak kemana saja. Lewat sajak-sajak ini, melintasi tiap lekuk tubuhmu, berjingkat diantara gerak-gerikmu, menetes, mengalir, berhembus, merayap, dan kembali kepada tubuhku. Apakah cinta itu benar-benar ada? Nonsense!

Bagaimana cinta ini bisa mengada, ketika cinta itu tidak pernah ada. Namun, aku mencintaimu, karena cinta ini tak pernah mengada.

Jogjakarta, 2010

%d bloggers like this: