Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Helm adalah sarana “pelengkap” kendaraan beroda dua. Helm berfungsi sebagai pelindung kepala ketika ada hal-hal buruk yang ditakdirkan untuk si pengendara motor, misalnya kecelakaan. Bahkan, helm juga bisa menjadi senjata andalan atau alat perlindungan ketika berdemo, nonton sepakbola, tawuran, dll. Dengan demikian, pemakaian helm tentu sangat tergantung dari keinginan si pemakai a.k.a subyektif. Misalnya, apabila saya hanya memakai motor untuk membeli rokok di warung, untuk apa pake helm, soalnya dekat dan saya tidak akan ngebut. Atau, saya habis potong rambut, dan saya tidak mau pake helm saya yang Nolan atau KYT itu menjadi kotor dan menggateli kepala saya nanti, karena sisa rambut yang belum dibersihkan. Intinya, pemakaian helm sangat subyektif seperti halnya bawa payung waktu musim hujan, dan ketika ada hal buruk tentu yang merugi adalah diri sendiri. Seperti bunyi alasan klise untuk tidak memakai helm “lha wong kepala-kepala saya, benjut ya saya yang ngerasain, terserah saya dong mau pake helm apa nggak”.

Helm sebenarnya berdiri hanya sebatas anjuran keselamatan berkendara, namun hal tersebut telah diatur dalam undang-undang lalu lintas. Oleh karena sudah ada undang-undangnya, maka apabila anjuran tersebut tidak dilaksanakan, maka kita bisa dianggap melanggar undang-undang, dan kita bisa kena sanksi. Polemik tentang pemakaian helm ini mendapat reaksi keras pada awalnya, terutama di Ujung Pandang (Makassar) pada tahun 1980’an. Mereka menganggap undang-undang pemakaian helm sangat mereduksi sisi kekeluargaan warga Makassar. Misal, kita bertemu teman, sanak, famili, pacar, ketika di jalan raya dan kita sedang naik motor. Lantas, sebagai orang yang baik hati tentu kita akan menawarkan untuk memboncengkannya, meskipun mereka tidak bawa helm, dan adanya undang-undang helm ini, menurut warga Makassar pada saat itu akan mereduksi keinginan untuk berbuat sosial, karena pembonceng yang tak berhelm akan dikenai tilang.

Nah, karena undang-undang tersebut tetap berlaku sampai sekarang, maka saya akan berbagi tips untuk tidak memakai helm meskipun ada pak Polantas yang asik itu. Tentu saja tips ini hanya alternatif saja, sebagai opsi kalo kita kepepet banget mau kuliah dan di kosan helmnya dipake semua, atau ketemu perempuan cantik sedang jalan dan kita ingin memboncengkannya, atau bahkan apabila kita mau ke luar kota tanpa helm hanya untuk cari sensasi silahkan saja. Namun, tips ini sudah terbukti sukses secara empiris.

1. Manfaatkan Jas Hujan (Penyetir pake helm, pembonceng tidak)

Sekarang musim hujan, jadi ada kesempatan untuk pembonceng berlindung dibawah jas hujannya penyetir motor untuk tidak pake helm. Meskipun hari panas, trik ini tetap bisa dilakukan, dengan anggapan abad ini cuaca sangat ekstreem, sebelah sana hujan, sebelah sini kering kerontang. Pembonceng bisa anteng aja dan tak kuatir akan kena tilang meski tidak pake helm, karena kepalanya ditutupi jas hujan. Coba aja, it’s work! Syaratnya, penyetir motor harus pake helm.

2. Manfaatkan Gang Tikus

Sudah tentu kalo orang ngerasa salah, dia harus meminimalisir untuk kena hukuman, apalagi sama Polantas, amit-amit deh. Kalo dua-duanya tidak pake helm, coba cari gang-gang sempit yang mengarahkan kita ke tempat tujuan. Atau misalnya kepentok lagi, tembus-tembusnya dijalan raya, mau tak mau turun dari motor dan kita menuntun motor tersebut melewati pos polisi. Pas udah lewat 50 meter atau kira-kira udah nggak keliatan pos polisinya, tancap gas lagi gan!

3. Pake Baju Adat, atau Blangkon

Di Jogja, para prajurit kraton yang berkeliaran di jalan raya tidak perlu helm. Sumpah. Mereka kebal hukum, minimal kebal undang-undang helm. Dari situ bisa kita ambil hikmah, sebagai orang yang melawan peraturan helm, ganti saja pelindung kepala kita dengan blangkon, atau kita pake baju adat (baju bodo, baju kurung, baju sate, koteka, beskap, baju gatot kaca, dll) sebagai kamuflase. Pasti kita tidak akan kena tilang meskipun gak pake helm, soalnya baju-baju tersebut adalah simbol budaya, dan hukum posisinya adalah anak dari budaya. Maksudnya budaya adalah sesuatu yang menciptakan hukum. Jadi gak akan berani deh, anak sama bapaknya. Gitu nggak sih? Belum pernah  praktek…

4. Pake Ember

Tips ini adalah untuk manusia progresif-revolusioner. Aksi ember untuk helm adalah simbol perlawanan terhadap peraturan helm tersebut. Biaya helm yang mahal, dan cenderung menjadi alat kekerasan, perlu disikapi dengan aksi yang elegan. Kita berkeliling kota dengan ember bekas cat, atau ember pecah sebagai helm. Pesan aksinya, sediakan helm gratis yang safety dan nyaman, tentu saja disediakan oleh polantas. Dan untuk kasus tilang akibat tidak pake helm, tidak seharusnya polisi menilang mereka, seharusnya polisi memberikan helm gratis kepada mereka. Bukankah itu satu bukti bahwa polisi adalah pengayom masyarakat? Merdeka! Merdeka! Hidup petani! Buruh! Rakyat miskin kota! Hidup mahasiswa progresif-revolusioner! Hidup intel dan reserse!

5. Pake Sepeda

Go green! kalo nggak mau pake helm, pake sepeda aja. Sehat dan romantis. Alon-alon menikmati gerak-gerik kota, sambil bercanda dengan si dia. Kalo capek, ngaso di bawah pohon beringin sambil mimik es teh dan bakwan jagung, pasti asoy. Bebas tilang dan angin sepoi-sepoi.

Mungkin segitu dulu tipsnya, yang lain masih dipikir-pikir lagi. Intinya, peraturan itu dibuat tentu bukan untuk menyiksa subyek peraturan itu, yakni kita, melainkan untuk membuat kita merasa nyaman dan tenteram. Kalo kita nggak merasa nyaman, tentu bukan peraturan namanya, tetapi Polantas, ups! maksudnya peraturan Polantas, eh intinya peraturan Polantas yang berujung tilang dan duit suap dan sok nggak diterima karena bisa menjatuhkan wibawa tapi pake tawar menawar dan kita dimarahi dan dibentak dan motor kita ditahan dan dihujan-hujankan dipanas-panaskan dan tangki bensin dikasih garam dan bla bla bla.. maaf saya ngelantur..

oOo

%d bloggers like this: