Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Bukan untuk bermaksud menyinggung atau menyulut permusuhan antar suporter, judul tersebut saya pilih karena saya sudah terlalu muak dan bosan dengan berita tawuran yang melibatkan perkumpulan suporter Persija Jakarta ini. Apalagi, tawuran-tawuran tersebut seolah-olah terjadi secara terus menerus pasca Bonek (suporter Persebaya Surabaya) melakukan perjalanan “maut” dari Surabaya menuju Bandung, yang sempat menjadi headline beberapa media massa. Entah benar atau tidak, ini hanya pikiran nakal saya saja, jangan-jangan suporter Persija iri dengan aksi Bonek yang lebih “hebat” dan militan, makanya mereka secara kontinyu melakukan aksi blow-up diri sendiri, dengan berkelahi di kota sendiri, dan dengan teman sendiri juga.

Saya sendiri sudah lelah mendengar permusuhan antar suporter di Indonesia. Meskipun kadang-kadang saya “kagum” melihat ulah mereka. Ketika saya melihat berita di televisi tentang perjalanan maut Bonek dari Surabaya menuju Bandung, jujur saya merinding. Apalagi ketika mereka dipaksa turun oleh aparat dari atas kereta, dan mereka malah menyanyikan yel-yel, itu adalah bagian paling (saya gak tau kata apa yang tepat untuk mengungkapkan kejadian tersebut). Hal tersebut seolah membawa memori saya ketika berada ditengah-tengah demonstran yang berada diujung bentrokan dengan aparat. Ramai dan begitu antusias, bercampur dengan semangat dan pengorbanan, bercampur juga dengan hasrat yang paling tinggi, yakni kebebasan. Pernah satu kali saya mencoba mencari video tentang aksi suporter beberapa tim di Indonesia lewat youtube.com, namun perhatian saya malah tertuju pada komentar-komentar yang hadir disana. Saling hina dan merendahkan, bahkan cenderung provokatif.

Jago Kandang

Istilah tersebut sangat erat dengan Jakmania. Semua musuh Jakmania sangat sepakat dengan hal tersebut. Saya pun sepakat. Dahulu kala, ketika saya masih SMP, saya adalah simpatisan Jakmania wilayah Pondok Gede. Waktu itu saya dikabari oleh kawan saya bahwa Persija akan melawat ke Bandung, dan Jakmania akan ikut dengan kekuatan 1000 pasukan. Saya kemudian bertanya, apakah Bung Ferry juga ikut, karena waktu itu dia adalah ketua Jakmania. Logika saya waktu itu, kalo Bung Ferry gak ikut, ngapain saya ikutan, orang ketuanya aja gak nonton. Dengan berkelakar, teman saya menjawab jangankan Bung Ferry, Haji Bodong aja ngikut kok. Entah kenapa saya ngikut aja waktu itu, dan saya naik Primajasa dari Rambutan bersama delapan teman saya. Saya cuma bawa uang 50.000, buat ongkos pulang balik 30.000 sisanya buat jajan. Selama perjalanan, saya sangat cemas dan takut, namun teman saya menenangkan saya, bahwa ketika sampai terminal Dago nanti, sudah ada banyak The Jak yang nunggu. Namun, setibanya di Dago (saya dan delapan teman saya masih ada didalam bis) bukannya atribut orange-orange yang menunggu, melainkan biru-biru. Secepat kilat, kami berganti kostum dengan kaos kutang! dan enggan turun dari bis. Di luar sana hanya berisi skinhead-skinhead yang lapar warna orange. Yasalam!

Singkat cerita, akhirnya saya menjadi miskin di Bandung, kenapa saya jadi miskin, saya enggan menceritakannya, namun yang membekas sampai sekarang adalah nonsense Jakmania berani keluar kandang selain GBK-Lebakbulus PP. Paling pol Tangerang dan Karawang. Mereka cuma berani nonton Persija di Jakarta doang. Image tersebut semakin menguat, dengan berita-berita media belakangan ini. Jakmania rusuh di kota sendiri, Jakmania Manggarai tawuran dengan Jakmania Tanah Abang, Jakmania tawuran dengan Bonek di Jakarta. Bagus kayak gitu? Kalo mau cari musuh ya diluar sana, jangan kota sendiri diacak-acak.

Sudah saatnya suporter Indonesia berbenah diri. Fanatik ya fanatik, tapi jangan sok asik. Banyak pihak yang dirugikan, dan yang paling penting merugikan klub sendiri. Bukan begitu?

Sekali lagi tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, selain muncul dari kegelisahan saya sendiri terhadap fenomena sepakbola di tanah air. No offense, please! :beer:

%d bloggers like this: