Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

untuk yang kesekian kalinya

awan mendung mengetuk daun pintu

yang kita jaga dengan payung, jas hujan,

beberapa lempengan seng, dan potongan kaca.

langit yang bergemuruh, tak juga membuat kita sadar

akan datangnya hujan lebat, sementara kita asyik sendiri

menyusun pertahanan, semacam usaha untuk membendung

air yang beriak.

kemudian, hujan pun turun

berjatuhan di atas tanah, membuat lubang dan kolam.

tanah tempat kita berpijak, tanpa kompromi membuat kita

menjadi gusar. becek dan kotor, pertahanan kita sia-sia belaka,

ketika air mulai membasahi ujung sepatu kita.

tubuhmu mencair, menjadi air.

tubuhku membatu, menjadi batu.

dan, engkau mengalir entah kemana

sementara aku bergurau sendiri dengan kerinduanku

yang perlahan berubah menjadi dosa

yang berlipat ganda.

amitaba!

Jalan Mawar, 2010

Tags: , ,

%d bloggers like this: