Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Saya baru saja menyelesaikan empat buah lagu saya, dan dengan secepat kilat mengunggahnya di situs jejaring sosial (Myspace). Berkali-kali saya memutar lagu-lagu tersebut, dan tidak bosan-bosannya saya mbatin betapa bagusnya lagu yang saya bikin. Wong lagunya sendiri ya jelas gak bakal bosan. Namun, ada hal yang membuat saya bosan, walaupun baru satu hari pasca lagu-lagu tersebut saya sebar di internet.

Tadi malam (15/5) saya dan kawan saya menonton sebuah acara musik di Atmajaya. Musik bukan sembarang musik tentunya, karena yang akan bermain musik adalah band post-rock spektakuler lokal yang bernama Individual Live. Pertama kali saya nonton aksi panggung mereka adalah ketika mereka menjadi band pembuka pas Santa Monica main ke Jogja, tepatnya di TBY. Asli, mulut saya langsung ndowoh tak bisa tertutup melihat mereka. Benar-benar God Speed You Black Emperor rule! opoo kui??🙂

Malam ini kali kedua saya menonton mereka, dan tetap saja takjub, sama seperti ketika saya melihat mereka pertama kali. Inilah musik. Saya memejamkan mata sejenak, sambil menikmati musik yang mereka kemas, dan hasilnya saya merasa tenang, damai, dan ada sebuah perasaan bergejolak di dalam dada, sama seperti saat kita jatuh cinta. Ya, inilah musik. Sebelum mereka main, saya juga menyaksikan penampilan Frau. Saya sangat tertarik dengan lirik-lirik yang dibawakan dalam setiap lagunya. Benar-benar kewes dengan dentingan nada-nada yang dihasilkan jemarinya lewat media piano. Ya, inilah musik.

Lalu saya berpikir, kenapa saya begitu percaya diri menyebarluaskan lagu-lagu saya yang hanya diiringi oleh gitar, itupun gitar kocokan pengamen. Kenapa saya begitu berani mengunggah lagu-lagu saya di internet. Saya merasa malu, minder, dan kecil hati. Mereka musisi yang nggak tanggung-tanggung, sedangkan saya, main gitar aja cumak bisa kunci dasar. Satu-satunya kelebihan saya adalah membuat puisi :malu:

Membuat puisi pun gak total-total banget. Siapa sih saya? Di jagat persilatan puisi ini. Pernahkah Sapardi Djoko Damono mendengar nama saya? Berapa buku sih yang saya punya di rak? Sampai 2000 jumlahnya? Hahaha, 10 juga gak sampai, itu juga ada beberapa yang hasil nilep. Lantas, apakah pantas saya bicara banyak tentang puisi lah, kritik puisi lah, bahkan memahami puisi saya sendiri pun masih bingung. Bagaimana mau jadi penyair, baca buku saja saya malas. Kecuali kalok kepepet, baru saya baca buku. Satu-satunya modal yang saya punya adalah masa bodoh. Saya menulis puisi, tanpa pernah membaca literasi apapun sebelumnya. Nulis ya tinggal nulis. Setelah beberapa judul jadi, dan bentuknya seperti itu-itu saja, baru saya membuka diri saya terhadap referensi.

Kembali pada masalah band-band’an. Saya sangat suka musik. Ya, siapa sih yang enggak. Dari situ, saya ingin membuat musik saya sendiri. Dahulu kala, jaman SMU saya membat sebuah band yang hanya main sekali saja, yakni penutupan MOS (Masa Orientasi Siswa). Setelah itu, bubar. Lagunya pun masih bawain punya orang, ya pas jaman itu lagi booming Punk Rock lah, Melodic lah, jadi saya main Blink2an hahahaha.

Musik tidak seperti buku. Saya tinggal mendengarkan musik saja kalau saya ingin tahu tentang musik tertentu, dan saya bukan orang yang malas untuk mendengarkan. Jadi, referensi tentang musik jauh lebih lancar, ketimbang referensi saya mengenai buku-buku puisi. Oleh karena referensi mengenai musik jauh lebih lancar, maka saya mempunyai banyak bahan untuk membuat musik saya sendiri. Namun, tetap saja ketika saya berangkat dari menikmati musik saja, maka selamanya saya hanya bisa menjadi penikmat musik sejati. Saya tidak punya kemampuan bermain musik, selain memainkan pita suara saya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah mencari orang-orang yang sepaham dengan selera musik saya untuk membangun sebuah band.

Namun, sudah 5 tahun lebih saya mencari dan mencari, gak ada orang yang cocok. Maka, dengan masa bodoh itu, saya nekat membuat musik saya sendiri, dengan kemampuan bermusik saya sendiri. Hasilnya, ya itu tadi, saya kerasa minder dan malu, melihat Individual Live, Frau, Risky Summerbee, Cranial Incisored, Spider’s Last Moment, Death Vommit, dan banyak band-band lokal Jogja (dimana saya tinggal dan sering liat mereka main) yang bermain musik tidak hanya bermain-main. Mereka menghargai musik dengan caranya sendiri-sendiri, dan saya langsung berpikir, apakah yang saya lakukan sudah menghargai musik, dengan menjadikannya sebuah pelarian atas media puis-puisi saya.

Entahlah. Satu hal yang pasti, saya berada pada titik dimana semangat dan keputusasaan sedang berkecamuk.

* ketika saya menulis ini, playlist winamp saya sedang memutar lagu Melinda – Cinta Satu Malam berulang-ulang. Just share gan :beer:

%d bloggers like this: