Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Saya menulis ini, ketika saya benar-benar merasa kehilangan beliau. Meskipun sampai hari kematiannya saya tidak berada disampingnya, dan sampai sekarang saya belum tahu cara menangisi kepergiannya. Dua hari kedepan adalah ulang tahunnya, dimana dia sudah tidak bisa lagi merayakannya.

ayah dan kakak, sebelum operasi cangkok ginjal

(foto ini diambil sesaat sebelum operasi, kira-kira satu minggu sebelum beliau meninggal)

Saya tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengenang ayah saya. Saya berusaha masuk ke dalam ingatan saya yang paling jauh, jauh sekali, sampai kepada masa kecil saya. Mungkin ingatan ini yang berada pada detik pertama, saya mulai bisa mengingat, yakni ketika kami pindah rumah dari Purwokerto ke Jogjakarta. Kira-kira tahun 1992. Umur saya waktu itu sekitar 4-5 tahun, saya bermain sepeda kesana-kemari, sementara ayah saya sibuk memindahkan barang-barang. Ayah membawa kami sekeluarga pindah ke Jogjakarta, karena beliau harus bekerja di Jogjakarta dan kami sekeluarga harus ikut.

Jogjakarta adalah masa kecil saya. Banyak sekali ingatan-ingatan yang berlari-lari dalam otak saya, sehingga saya kesulitan untuk mengurutkannya, detik demi detik kejadian saya bersama ayah saya.

Pernah satu kali saya membuat mie rebus instant. Saya membuat dua bungkus sekaligus, karena saya lapar. Kemudian, ayah saya bilang supaya dibuat satu-satu saja jangan sekaligus, apabila lapar nanti bisa bikin lagi. Namun, saya tidak mengindahkannya. Saya tetap membuat mie tersebut dua bungkus sekaligus. Alhasil, saya kekenyangan dan mie tersebut tidak habis, kemudian ayah memarahi saya, beliau menumpahkan mangkok berisi mie instant yang sudah lembek-lembek itu di kepala saya.

Pernah satu kali saya mandi, dan saya selalu suka untuk berendam di bak mandi. Bak mandi saya waktu itu besar sekali, atau mungkin tubuh saya yang masih kecil, jadi serasa kayak kolam renang. Kemudian, ayah selalu komplain kenapa bak mandi selalu keruh dan kotor kalok saya habis mandi. Kemudian saya ketahuan kalok suka berendam di bak mandi, dan saya dimarahi.

Pernah satu kali, ketika ada pasar malam (Sekaten) ayah mengajak kami sekeluarga untuk mengunjunginya. Disana ramai sekali. Kakak saya membeli sebuah boneka kanguru besar berwarna coklat muda. Kemudian, ayah menawari saya boneka, namun saya tidak mau. Sampai di rumah, saya berebut untuk bermain boneka itu dengan kakak saya, hasilnya ayah marah, kenapa tadi ditawari nggak mau, sekarang malah rebutan. Ayah marah dan saya disuruh membeli sendiri boneka tersebut, dia melemparkan uang pecahan 50.000-an kearah muka saya.

Pernah satu kali, ketika gigi susu saya mau tanggal dan saya rewel karena kesakitan. Kebetulan kakak saya juga ingin cabut gigi, karena ada gigi yang tumpang tindih. Jadi, saya sekalian diajak ke dokter gigi untuk mencabut gigi saya yang oglek. Sesampainya di dokter gigi, saya takut, lebih-lebih mendengar mesin bor gigi, dan saya memutuskan untuk mogok, tidak mau di cabut giginya. Ayah saya marah, padahal sudah bayar bea pendaftaran. Di jalan pulang beliau memarahi saya, sambil menyetir mobil. Gas mobilnya di gajet-gajetkan (jadi mobil jalannya ndut-ndutan) bikin saya sakit kepala.

Pernah satu kali saya dibelikan ayah bola sepak ukuran 5. Warnanya hitam putih. Saya suka sekali. Setiap hari sepulang sekolah saya selalu mengajak teman saya bermain, kalo tidak ada yang mau, saya main sendirian. Ketika ayah pulang makan siang, beliau melihat saya sedang bermain bola sendiri. Diambilnya bola itu dan dibawa pulang, sambil mengocehi saya main bola panas-panas. Beliau ke dapur mengambil bendo (semacam pisau berukuran besar), kemudian membelahnya, namun tidak bisa karena bola itu terbuat dari karet. Saya tertawa. Beliau mengganti alat untuk membelah bola, kali ini dengan pisau, beliau tidak membelahnya, kali ini menusuknya. Hasilnya bola itu kempes, dan saya tidak jadi tertawa, malah menangis.

Pernah satu kali saya pulang bermain terlalu sore, sekitar jam 6. Baru sampai di halaman rumah, ayah sudah menunggu di depan pintu sambil memasang wajah “makan bayi”. Kemudian saya kabur. Beliau berteriak supaya saya jangan lari, sambil memegang batu, ya batu, batu berukuran sedang. Saya semakin menambah kecepatan berlari saya. Kemudian, beberapa saat kemudian, saya mengendap-endap lewat pintu belakang (dapur). Rupanya disana sudah ada ayah saya, dan saya ditangkap, kemudian dimarahi kenapa pulang terlalu sore.

Pernah satu kali, bahkan terlalu sering saya mengambek di mall. Waktu itu belum ada Malioboro Mall (sudah ada mungkin, tapi saya nggak tahu dan nggak peduli), kami sekeluarga sering pergi ke Ramai Mall. Makan bersama di Es Teller 77, jalan-jalan, dan saya selalu berdiam di toko mainan. Tiba saatnya pulang, saya tetap disana dan merasa bahagia berada disekitar mainan-mainan itu. Namun, ayah saya memaksa pulang. Saya ngambek dan menangis di mall. Hampir setiap kali pergi ke mall, saya selalu seperti itu.

Pernah satu kali saya sakit gondongan. Waktu itu ayah baru mendapat surat pindah tugas ke Ujung Pandang (sekarang Makassar). Ibu menangis. Menangis karena pindahnya jauh sekali, ke luar Jawa. Saya sedang berbaring di kursi tamu, kemudian ayah menghampiri saya, dan memberikan saya bungkusan. Isinya burger, ya burger Mc Donald’s. Hari itu kali pertamanya saya makan burger.

Ujung Pandang adalah setting tempat berikutnya, saya bersama ayah. Tidak terlalu banyak ingatan bersama ayah di tempat ini, mungkin karena ayah sering pergi ke luar kota untuk tuntutan karir. Dalam satu bulan, beliau hanya satu sampai dua minggu saja berada di rumah. Beliau sering bercerita tentang kejadian-kejadian, pengalaman, dimanapun kota yang dia singgahi. Mulai dari pelosok Sulawesi Selatan (Sungguminasa, Jeneponto, Toraja, Soppeng, Sidrap, Pangkep, Pinrang, Wajo, dll) sampai menjelajah pulau Sulawesi, dari Gorontalo sampai Buton. Beliau selalu membawa oleh-oleh, entah itu makanan atau cerita-cerita menarik.

Pernah satu kali saya sedang makan es krim Conello. Nenek saya yang kebetulan ikut ke Ujung Pandang untuk menemani ibu saya yang sedang hamil tua, kepingin juga. Saya tidak mau kasih es krim itu. Kemudian ibu saya menasehati saya, dan saya nurut, meski dengan berat hati. Kemudian nenek memakan es krim saya separuh, dan dikembalikan ke saya. Saya tidak mau, karena es krim itu bekas nenek, jadi langsung saya buang ke tempat sampah. Kebetulan ayah pulang makan siang, dan melihat saya dimarahi ibu karena membuang es krim dan bersikap tidak sopan terhadap nenek. Setelah tahu duduk permasalahannya, ayah langsung naik pitam. Saya disabeti pake tutup mesin cuci.

Pernah satu kali saya berebut es krim Conello dengan kakak saya. Sebenarnya bukan berebut, namun es krim saya sudah habis, sedangkan punya kakak saya belum, jadi saya kepengen lagi. Kebetulan ayah sedang tidur siang, dan beliau merasa terganggu dengan keributan kami. Tiba-tiba dia bangun, dan langsung pergi entah kemana. Saat pulang, dia bawa es krim Conello sepuluh biji, ya sepuluh biji. Saya disuruh memakan semua. Saya malah menangis waktu itu. Ayah saya kemudian meng-keramasi kepala saya dengan es krim tersebut, sepuluh biji banyaknya.

Pernah satu kali saya mengambek kepada ibu saya, karena tidak diijinkan bermain layang-layang. Saya nekat mengumpulkan uang jajan untuk membeli sebuah layang-layang dan segulungan benang. Namun sesampainya di rumah layang-layang saya di buang. Saya marah. Marah sekali. Kemudian saya pergi dari rumah. Saya berjalan kaki menyusuri jalan belakang komplek. Rumah saya di jalan Cendrawasih, dan tibalah saya pada kompleks Pantai Losari. Disitu saya duduk kayak orang begok, tidak tahu mau ngapain. Saya sampai sore menjelang malam waktu itu, baru memutuskan untuk pulang karena tidak tahu harus berbuat apa. Setibanya di rumah, saya disambut oleh ayah saya dengan wajah kebingungan, dan dia memeluk saya.

Di Ujung Pandang, kami sempat pindah rumah. Semula rumah kami berada di jalan Cendrawasih kemudian pindah ke jalan Hati Mulia. Disana ada rumah milik kantor yang jauh, sangat jauh, lebih baik dari rumah kami yang di jalan Cendrawasih. Waktu itu sedang pecah kerusuhan berbau SARA, yakni warga pribumi memerangi etnis Chinesse, suasana kota sungguh mencekam.

Pernah satu kali tangan saya di operasi. Dari rumah sampai ke RS. Pelamonia, saya tegang sekali. Sampai tiba waktunya saya terbaring di meja operasi, ayah selalu di samping saya. Sambil memberi support, dia berkata “Nanti tak beliin mainan yang banyak”.

Pernah satu kali saya ketahuan mencuri uang 10.000 rupiah, untuk membeli permen karet Lotte yang ada mainan bongkar pasangnya. Waktu itu saya gemar sekali mengkoleksi, dan saya ingin punya banyak sekaligus, jadi saya beli permen itu langsung lima bungkus, dan akhirnya saya ketahuan. Saya dimarahi habis-habisan oleh ayah saya.

Jakarta adalah setting tempat berikutnya, saya bersama ayah. Setelah kurang lebih 2 tahun berada di Ujung Pandang, ayah dipindah ke Jakarta.

Di Jakarta saya sudah agak besar, yakni kelas 6 SD. Tahun-tahun tersebut ayah juga jarang di rumah, karena beliau sering tugas ke luar kota. Ingatan-ingatan tentang dirinya juga tidak terlalu banyak (yang substansial) hadir dalam otak saya.

Pernah satu kali saya diajak ayah ke Pasar Senen untuk membeli perlengkapan sekolah yakni tas. Hal ini untuk mempersiapkan hari menjadi siswa baru di sekolah baru saya. Kemudian saya memakai tas itu dengan riang gembira. Namun, sepulang sekolah saya dibetak di jalan, dan tas baru saya ikut dibawa. Saya sedih, dan pulang sambil menangis.

Pernah satu kali saya merasa dekat sekali dengan ayah. Yaitu ketika saya di sunat. Waktu itu kami sekeluarga berangkat ke Purwokerto, dan saya di sunat disana. Semalaman saya gelisah, sulit untuk tidur. Ayah saya selalu menemani saya, beliau memberikan semangat. Kata-kata yang paling saya pegang adalah “Belum pernah ada orang yang mati, gara-gara di sunat”. Kata-kata itu lantas membuat saya tenang. Esok paginya ketika saya di sunat, ayah ada disamping saya, memberikan support yang luar biasa.

Pernah satu kali ayah saya marah besar akibat nilai rapor saya jeblok. Waktu itu saya sudah SMP kelas I. Pada caturwulan pertama saya berhasil ranking III, namun pada caturwulan kedua, saya tidak mendapat ranking. Saya dimarahi habis-habisan. Kemudian, saya membuktikan isi otak saya kepada ayah, yakni menjadi ranking II pada caturwulan ketiga, dan berhasil naik kelas dengan mudah.

Pernah satu kali saya ingin naik motor. Kebetulan ayah baru membeli motor baru, dan saya ingin mencobanya. Waktu itu saya sudah SMU kelas I. Setelah saya bujuk, ayah mau mengalah dan dia pergi ke kantor naik bis kota. Pada suatu hari ayah ingin mengetes kemampuan saya naik motor, beliau meminta saya untuk mengantarnya ke jalan besar, tempat dia biasa menunggu bis. Saya berhasil mengantarnya, namun sepulang dari mengantar beliau, saya nyusruk masuk ke got.

Pernah satu kali, saya ngambek kepada ayah. Karena beliau mau pindah ke Semarang, dan saya harus ikut. Padahal saya sudah punya pacar. Pacar saya cantik sekali, sedangkan saya jelek, jadi bagaimana nanti kalok saya berpisah, orang cumak dia yang mau sama saya. Saya ngambek, tidak mau sekolah.

Pernah satu kali saya membolos sekolah bersama pacar saya. Sebenarnya bukan membolos, tetapi karena terlambat, jadi menurut peraturan sekolah, saya tidak boleh masuk, dan hanya diberikan surat peringatan untuk ditandatangani orang tua. Rupanya ayah, ke sekolahan untuk menemui guru saya, kepentingannya adalah untuk memberitahu bahwa saya akan pindah, dan mengurus surat-surat kepindahan saya. Mengetahui saya tidak sekolah hari itu, padahal pamit, ayah saya marah.

Pernah satu kali ketika kami sekeluarga siap untuk berangkat ke Semarang dalam rangka pindah rumah. Saya menghilang dari jam 10 pagi, padahal kami harus berangkat jam 3. Saya berada di rumah pacar saya, untuk acara tangis-tangisan. Ayah mencari saya kemana-mana, dan saya baru kembali ke rumah jam 2 siang. Saya dimarahi, dan ditanya darimana, dan saya menjawab dari rumah pacar. Melihat wajah saya yang tampak bete, kemudian ayah bilang “alah, kayak gitu aja ditangisin, besok kan dapet lagi”. Saya cumak mbatin WTF!

Saya pindah ke Purwokerto, sementara ayah dan ibu saya di Semarang. Alasannya, saya sudah SMU dan ayah berpikir masih sering pindah tugas lagi. Beliau kasihan dengan pendidikan saya apabila saya terus ikut pindah. Jadi saya ditarok di rumah nenek di Purwokerto sampek lulus SMU.

Purwokerto adalah setting cerita berikutnya. Namun, ditempat ini saya tidak tinggal lagi bersama ayah, karena ayah berada di Semarang.

Pernah satu kali ketika baru  pindahan, saya langsung sakit demam berdarah dan tipes. Saya harus opname di rumah sakit. Ayah berangkat dari Semarang jam 12 malam dan sampai di Purwokerto sekitar jam 5 pagi. Beliau langsung ke rumah sakit dan menemani saya.

Baru 7 bulan di Semarang, ayah harus pindah tugas lagi ke Denpasar. Ayah berangkat sendirian, sedangkan ibu saya tinggal di Purwokerto, menemani saya yang sudah kelas II SMU. Ayah tinggal di Denpasar sendirian.

Satu bulan sekali pasti ayah pulang, menengok kami sekeluarga, dan sekedar makan bersama.

Di Denpasar ayah mulai sakit-sakitan. Kondisi kesehatan beliau semakin menurun, mungkin karena beliau sudah menginjak usia setengah abad.

Kemudian, saya lulus SMU. Ayah saya menyarankan supaya saya mengambil jurusan Ekonomi atau Hukum, supaya bisa menggantikan beliau di Pegadaian.

Namun, tanpa sepengetahuan ayah, saya mengambil jurusan Filsafat. Ketika tiba pengumuman SPMB, saya diterima di Fakultas Filsafat UGM, dan ayah kaget, beliau langsung menepuk bathuknya (jidat). Beliau menyarankan saya untuk melepas jurusan itu dan mengganti dengan jurusan lain, namun saya bersikeras. “aduh, dek jurusan ra nggenah”, begitu katanya.

Ketika saya mulai berpikir untuk mencari kos-kosan di Jogja, rupanya ayah saya membawa kabar gembira, bahwa beliau rupanya di pindah tugas ke Jogjakarta.

Jogjakarta adalah setting cerita berikutnya, saya bersama ayah. Di kota ini, saya juga sering bertengkar dengan ayah mulai dari hal kecil sampai hal besar.

Pernah satu kali saya merasa ditinggalkan oleh ayah saya. Saya mendaftar sendiri, pusing sendiri, kemana-mana sendiri. Ayah saya masih ngambek kepada saya mungkin, kenapa saya tetap bersikeras kuliah di Filsafat.

Pernah satu kali saya tidak pulang selama seminggu lebih ke rumah. Saya pulang apabila uang saya habis. Itupun saya hanya menemui ibu saya saja. Kemudian ayah merasa saya sedang ngambek kepada dia, akhirnya dia mengalah dan saya di restui untuk kuliah di Filsafat.

Ayah mulai terdeteksi terkena penyakit gagal ginjal. Beliau terlihat putus asa, terlebih ketika di vonis cuci darah sebanyak satu minggu sekali. Beberapa bulan kemudian, intensitas cuci darah beliau meningkat dari satu kali seminggu menjadi dua kali seminggu.

Saya tidak pernah sekalipun menemani ayah pergi cuci darah. Saya sebal melihat rumah sakit, mencium baunya, terlebih di klinik Hemodialisa, banyak orang yang bergelut dengan penyakit ginjalnya, mereka berpacu dengan harapan kosong dan hidupnya bergantung pada sebuah mesin. Begitu juga dengan ayah saya sendiri.

Meskipun ayah menjalani cuci darah sebanyak dua kali seminggu, beliau tampak semangat dalam menjalani hidup, bekerja, dan tetap berusaha menjadi ayah yang baik. Meskipun saya tahu, dalam hati kecilnya beliau pasti putus asa, karena umur seorang penderita gagal ginjal tergantung pada jumlah uang yang dipunya. Apabila uang habis, umur juga habis.

Ayah sering marah kepada saya, karena saya jarang pulang ke rumah, kalau pulang diatas jam 12 malam.

Selama dua tahun berada di Jogja, akhirnya ayah dipindah tugas ke kantor pusat. Mengingat masa kerjanya yang hampir menginjak tahun ke-30, masa pensiun ayah sudah dekat, jadi pihak direksi memindahkan ayah ke Jakarta. Sedangkan saya yang masih kuliah, akhirnya nge kos di Patangpuluhan, arah barat Jogjakarta.

Jakarta adalah setting tempat berikutnya, dan kota inilah tempat cerita akhir dari kami. Beliau akhirnya menyerah terhadap penyakitnya.

Selama ayah di Jakarta dan saya di Jogja, kami jarang berkomunikasi. Saya tidak pernah mengangkat telponnya, dan hanya sesekali membalas sms beliau. Saya juga jarang pulang ke Jakarta, paling hanya 6 bulan sekali, itu pun hanya sebentar, satu atau dua hari saya pulang ke Jogja lagi.

Tiba saatnya ayah akan bertolak ke China untuk berobat. Akhirnya saya pulang, untuk mengantar beliau ke bandara. Beliau berangkat ditemani kakak saya, sedangkan ibu saya yang ingin ikut harus terganjal oleh adik perempuan saya yang masih harus diurusi.

Ayah berangkat tanggal 3 Maret. Sebelum itu, ayah membelikan saya handphone baru, karena menurut ayah, handphone saya handphone bancet, bunyinya bikin pusing. Jadi saya dikasih uang untuk membeli hhandphone baru. Akhirnya saya membeli handphone yang lebih bagus, meskipun harganya 275 ribu, namun suaranya gak bikin pusing alias poliponik.

Jauh sebelum itu, ayah juga membelikan saya motor baru. Karena motor saya (hasil rampasan motor ayah yang di Jakarta) dianggap sudah tidak layak, karena ulah saya memodifikasi motor tersebut berlebihan.

Jauh sebelum itu, pernah satu kali saya membawa teman saya Gita ke rumah. Saya pulang bareng dengan dia dari Jogja, dan saya bermaksud mengantarnya sampai rumah. Saya tarok di rumah saya dahulu, baru kemudian saya antar kalok hari sudah agak terang, karena ketika saya tiba pas dini hari.

Di dapur ayah bertanya kepada saya, siapa yang saya bawa. Kemudian saya bilang kalau orang ini yang besok harus beliau lamar untuk jadi menantu, saya sembari tertawa. Kemudian ayah bilang “Ck, kamu ini macem2 aja, siapa namanya?”. Saya bilang Brigitta Isabella. Kemudian ayah saya menjawab “kok namanya bukan kayak orang Jawa”. Saya hanya tertawa.

Ayah memang unik, terkadang menyebalkan, terkadang membuat saya ingin menangis.

Terkadang seperti balita. Beliau mempunyai kebiasaan membuat jus jeruk dan es teh, mungkin untuk mengusir rasa bosannya. Ketika di Hero atau Carrefour beliau selalu kegirangan dan heboh sendiri melihat jus Pulpy Orange. Ayah memang tidak boleh banyak minum, karena kalau kebanyakan minum, cairan akan memenuhi tubuhnya, akibat gagalnya fungsi ginjal. Jadi beliau hanya memandang dan melihat jus Pulpy Orange dengan seksama.

Ayah terkadang lucu, pernah satu kali ketika saya pulang dengan potongan rambut Mohawk, ayah gerah melihatnya. Beliau menyuruh saya untuk merubah potongan itu dan saya tidak mau, dengan alasan saya sudah besar dan tahu apa yang saya pilih.

Kemudian beliau memberikan saya uang 1.000.000 rupiah untuk merubah potongan itu. “aku mending kalah uang, dari pada liat anaknya aeng-aeng”, begitu testimoninya.

Beliau sangat menyayangi anak-anaknya, meskipun kadang-kadang kami menyebalkan (khususnya saya)

Beliau ingin sekali mengajak anak-anaknya melancong, namun “kontrak” cuci darah yang membuat beliau tidak bisa pergi jauh-jauh.

Tanggal 3 Maret 2010, ketika pagi masih ufuk, kami sekeluarga pergi ke bandara untuk mengantar beliau dan kakak saya. Sesampainya di bandara, suasana begitu dingin, ayah juga tidak mau ada perpisahan. Kami disuruh langsung pulang saja, karena pesawat baru berangkat jam 8 pagi, beliau tidak mau kami menunggu terlalu lama. Beliau pergi begitu saja, tidak ada pelukan dengan ibu saya, hanya bersalaman dan mengelus kepala ibu saya. Saya berusaha memeluk namun begitu cepat beliau melepasnya. “udah, udah”, begitu dia bilang kepada saya. “cepat sembuh pah, semoga sehat”, saya hanya bilang begitu.

Akhirnya, pada tanggal 19 Maret 2010, beliau menyerah. Jam 6 pagi waktu China, atau sekitar jam 5 pagi waktu Indonesia. Saya dikabari oleh ibu saya via telpon, waktu itu posisi saya sedang di kereta, tepatnya di Karawang. Saya bermaksud pulang, menemani ibu dan adik saya yang sendirian di rumah. Saya bertolak ke Jakarta malam sebelumnya, jam 10 malam tepatnya. Ibu menangis sejadi-jadinya, dan saya tidak bisa berbicara banyak.

Sesampainya di rumah, ibu hanya memeluk saya. Badannya lemah sekali, dan tangisnya terisak-isak. “Papahmu udah gak ada dek”, begitu dia bilang sambil memeluk saya, saya yang kaku dan tidak bisa bergerak.

Pernah satu kali ayah bilang kepada saya : Laki-laki harus punya privasi.

Wahyudi Budijanto (Purbalingga, 21 Mei 1956 – Hunan, 19 Maret 2010)

oOo

%d bloggers like this: