Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

“kau reguk habis, semua do’a-do’a

dari surau depan rumah yang kau sewa

tak terasa surya duduk di kepala

azan subuh masih di telinga”

(Azan Subuh Masih Di Telinga, 1984)

“gema azan ashar, sentuh telinga

buyarkan mimpi si kecil siang tadi

dia berdiri malas melangkahkan kaki

diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi”

(Siang Seberang Istana, 1984)

menjelang maghrib hujan tak reda

si Budi kuyup menghitung laba

surat kabar sore di jual malam

selepas isya melangkah pulang”

(Sore Tugu Pancoran, 1985)

“gerak pedati, dan lenguh lembu

seember rumput dan pletar cemeti

seakan suara azan yang dikasetkan

sementara itu, sang bilal tengah pulas mendengkur”

(Si Tua Sais Pedati, 1981)

Azan adalah panggilan kepada seluruh umat Muslim untuk menjalankan ibadah shalat. Azan selalu berkumandang sebanyak lima kali sehari, mulai dari pagi masih ufuk, hingga hari menjadi gelap kembali. Azan selalu menggema selama 24 jam penuh di bumi allah S.W.T ini (sumber : azan maghribnya MetroTV).

Azan, dalam beberapa lagu Iwan Fals menurut saya bukan sebuah kebetulan saja. Lagu-lagu yang menggunakan kata azan, cenderung merujuk pada satuan waktu. Azan di negeri ini selain berfungsi sebagai panggilan ibadah, merangkap juga sebagai penunjuk waktu. Dan, dalam lagu-lagu Iwan Fals yang menggunakan kata azan, Iwan Fals berusaha mengeksplorasi tema “waktu” yang dibenturkan dengan kehidupan masyarakat inferior.

Azan Subuh Masih Di Telinga, menggambarkan sesosok pelacur yang sedang beranjak menuju pertaubatan atas pekerjaannya. Dalam lagu ini, Iwan Fals menyampaikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, yakni dalam liriknya yang menjadi judul lagu ini. Azan Subuh Masih Di Telinga.

Siang Seberang Istana, menunjukan betapa kontrasnya kehidupan masyarakat bawah dengan para pejabat tinggi negara. Seorang penyemir sepatu cilik yang tengah beristirahat di depan sebuah istana negara, diangkat menjadi sebuah pesan yang disampaikan Iwan Fals. Azan ashar yang berkumandang akhirnya membangunkan anak itu, dan mengajaknya pulang untuk bermimpi lagi.

Sore Tugu Pancoran, mengangkat kisah si penjual koran yang harus berjuang mencari nafkah di usia yang masih sangat belia. Penggunaan kata azan maghrib dan isya disini mengacu pada sebuah batasan waktu. Sedari sore dia berjualan koran, dan sehabis isya dia beranjak pulang.

Azan dalam lagu-lagu Iwan Fals memang sangat dekat. Hal ini mungkin disebabkan karena Iwan Fals memang pernah menjuarai lomba azan tingkat propinsi pada saat kelas lima SD (CMIIW). Kedekatan Iwan Fals dan azan menjadikan lagu-lagunya bernuansa religius yang menenangkan, seperti azan yang biasa saya dengar. Saking tenangnya saya mendengarkan azan yang berkumandang, sampai-sampai saya sering tidak sembahyang🙂

Tags: , ,

%d bloggers like this: