Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Experience is the best teacher. Itulah sebuah kutipan yang saya temukan di bagian bawah lembaran buku tulis pas jaman SD. Abang saya pun sering mengirimi saya pesan singkat, ketika saya tengah menghadapi ujian akhir semester. Bunyinya begini, belajar adalah sebagian dari iman. Ya, kita memang selalu dituntut untuk belajar dan terus belajar. Tentu saja tidak hanya dalam bidang akademis, namun seluruh aspek kehidupan. Untuk apa belajar? yang pasti supaya kita lebih cerdik, cerdas, pintar, dan bijak.

Kehidupan itu gudangnya kesalahan. Bahkan dalam bercandaan teman-teman sekampung, hidup adalah sebuah kesalahan. Karena kehidupan itu gudangnya kesalahan, ya kita hidup untuk membenarkan kesalahan-kesalahan tersebut. Membenarkan dalam arti memperbaiki, bisa juga berarti membenarkan yang salah itu. Apa yang membuat kehidupan itu adalah gudang kesalahan, adalah banyaknya pilihan yang menyertai kehidupan tersebut. Jadi, siapa sebenarnya yang patut disalahkan, kehidupan yang menawarkan banyak pilihan atau manusia yang memiliki otoritas untuk memilih pilihan-pilihan tersebut?

Salah dan Benar

Apa itu salah dan apa itu benar? Apa yang membuat sesuatu itu menjadi salah dan menjadi benar? Apabila kita membahas “salah dan benar” tersebut panjang urusan, karena bisa menyangkut nilai yang sifatnya subyektif. Kalok mau obyektif, ya pake logika salah dan benar. Sesuatu dibilang salah apabila terdapat ketidaksesuaian dengan apa yang telah disepakati. Misal, saya memainkan sebuah kunci gitar G, namun posisi jari saya memainkan kunci A, tentu itu sebuah kesalahan. Misal, saya menghitung 1+1 = 428, padahal hasilnya adalah 2, tentu itu sebuah kesalahan. Apa yang membuat dua hal yang saya lakukan tersebut dibilang sebuah kesalahan, ya tanyakan saja sama manusia-manusia yang menyepakati kenapa kunci G bentuknya begitu, dan kenapa 1+1 = 2. Kesalahan akan lebih mudah ditemukan dari sesuatu yang bersifat pasti dan baku. Apakah hidup dan kehidupan merupakan sesuatu yang pasti dan baku? Apakah kehidupan merupakan sesuatu yang telah disepakati? Apabila dalam kehidupan kita melakukan “x” maka hasilnya sudah pasti “y”? Apakah kehidupan tidak bisa terbuka oleh segala macam kemungkinan-kemungkinan? Kemungkinan-kemungkinan yang bisa membiaskan antara salah dan benar itu tadi.

Sesuatu yang benar muncul dari sesuatu yang salah, begitupun sebaliknya. Kebenaran duduk diatas puing-puing kesalahan, dan kesalahan menyangga tiang-tiang kebenaran. Sesuatu yang benar pasti hadir dari sesuatu yang salah, tidak ada “benar” yang berdiri begitu saja tanpa kaki “salah”. Salah adalah ibu dan benar adalah anak. Benar adalah ayah dan salah adalah anak. Tidak ada “salah” tanpa kebenaran, dan tidak ada “benar” tanpa kesalahan. (sukurin, mumet bacanya :ngacir:______)

Namun, sesuatu yang benar apabila dilakukan dengan niat yang salah, hasilnya akan salah, dan sesuatu yang salah apabila dilandasi dengan niat yang benar, hasilnya bisa benar. Misal, saya terpaksa menerima seorang pencuri untuk bersembunyi di rumah saya. Benarnya adalah supaya pencuri itu tidak mati dihajar warga kampung dan niat saya melindungi pencuri itu. Niat saya salah, karena yang saya lindungi adalah pencuri, dan bisa jadi saya ikut-ikutan dihajar warga kampung. Misalnya lagi, seorang perempuan yang terpaksa menerima lamaran seorang bangsawan agar bangsawan tersebut bisa membebaskan kekasihnya dari hukuman gantung. Benarnya adalah supaya kekasihnya tersebut tidak mati di tiang gantungan. Namun, niat perempuan itu salah karena membohongi hati nuraninya dalam mencintai seorang pria, bisa jadi dia tidak hidup bahagia bersama bangsawan tersebut. Tidak bahagia berarti sebuah kesalahan, bukan. Sebuah kesalahan, apabila dijalankan dengan niat yang benar, hasilnya pasti benar. Benar dalam kesalahan itu sendiri. Mencuri yang benar, memaki yang  benar, memperkosa yang benar, korupsi yang benar, berselingkuh yang benar, menyakiti yang benar, dan yang benar-benar lainnya.

Belajar Dari Kesalahan

Menentukan niat yang benar sangat mudah, yang sulit adalah menentukan perbuatan yang benar. Perbuatan bukan matematika, bukan sesuatu yang pasti, dan sifatnya sangat lentur. Apabila berbuat begini belum tentu hasilnya begono. Pilihan-pilihan dalam hidup yang menentukan perbuatan yang benar dan salah. Pilihan yang salah, namun dilakukan dengan benar bisa jadi hasilnya adalah benar. Pilihan yang benar, namun dilakukan dengan salah, pasti hasilnya salah. Bagaimana agar pilihan dan perbuatan kita sama-sama benar, ya tanya sama Tuhan.

Untuk menentukan pilihan dan perbuatan supaya benar kedua-duanya dengan cara manusia adalah belajar dari kesalahan itu. Kok kalok saya pelit kudi saya dijauhi teman-teman ya, dijauhi mungkin tidak, tapi kok mereka selalu menggunjingkan saya dibelakang. Bagaimana supaya mereka berhenti menggunjingkan saya dan saya tetap pelit kudi? Ya mending saya tidak berteman dengan mereka, dan saya mencari teman yang sama-sama pelit kudi seperti saya. Nah itu satu contoh belajar dari kesalahan, namun tidak memperbaiki kesalahan, namun membenarkan kesalahan itu sendiri. Pelit kudi adalah sebuah kesalahan.

Saya selingkuh. Dua-duanya menguntungkan buat saya. Yang satu terkenal minta ampun dan dapat menunjang eksistensi saya. Yang satu selalu punya waktu buat saya, meskipun sedikit bodoh, tapi saya sayang sama dia, karena setiap hari dia selalu ada buat saya. Saya mencintai dua-duanya. Namun, yang satu marah ketika tau saya berselingkuh dan yang satu tetap bodoh masih mau selingkuh sama saya. Bagaimana caranya supaya saya bisa dapat dua-duanya tanpa menyiksa diri saya sendiri. Saya juga merasa tersiksa karena harus berbagi peran ketika menjalankan hubungan ini, dan saya merasa berdosa karena membohongi mereka.

Selingkuh adalah sebuah kesalahan. Bagaimana belajar dari kesalahan berselingkuh itu? Memakai cara seperti si pelit tadi bisa juga, yakni tetap berselingkuh sampai mati. Namun, yang terjadi adalah bukan memperbaiki selingkuh itu sendiri namun membenarkan selingkuh demi kepentingan sendiri. Bahagia selamanya tanpa pernah kesepian.

Kehidupan selain gudangnya kesalahan, didalamnya juga terdapat gudangnya kepuasan yang tak terhingga. Kehidupan selalu memberikan tangannya atau apalah itu untuk mencapai kepuasan tingkat tinggi. Manusia yang ada didalam kehidupan yang penuh kesalahan ini juga tidak pernah ada kata “puas”. Mereka selalu ingin ini, ingin itu, mau ini, mau itu. Apa yang perlu diperbaiki adalah pastikan limit kepuasan kita masing-masing. Keinginan adalah sumber penderitaan.

Saya sudah puas bisa dapat pacar cantik (menurut saya) berkulit kuning, kurus, berambut kucai, sayang sama saya, mencintai saya (begitu katanya), dan saya tidak pernah ingin mencintai perempuan lain selain pacar saya. Suka dengan perempuan lain mungkin, tapi mencintai tetap dia. Dengan begitu saya bisa membatasi diri dari perselingkuhan, dan apabila nanti saya berselingkuh tentu saja saya sebagai lelaki akan bersikap fair, yakni dengan lugas, tegas, dan terpercaya, saya akan berterus terang kalok saya selingkuh dan membicarakan bagaimana hubungan ini selanjutnya. Tentu dengan alasan kenapa saya berselingkuh. Tapi, saya tipe lelaki yang setia kok, bodoh lagi :malu

Kesalahan-kesalahan yang ada dalam kehidupan manusia, tidak bisa dilepaskan dari rasa puas. Rasa puas tersebut yang membuat pilihan-pilihan dalam hidup menjadi rumit. Saking rumitnya, terkadang kita ingin memilih semua dan menjalani semua, meskipun kita sadar, itu nonsense. Ketika kita sadar bahwa rupanya pilihan itu salah, kita tidak perlu kembali untuk memilih pilihan yang lain. Pilihan salah, apabila diiringi dengan tindakan yang benar, maka bisa menjadi sesuatu yang benar.

Jadi, jangan takut salah, karena disitu kita bisa menjadi lebih cerdik (cerdas dan licik)

oOo

Tags: , ,

%d bloggers like this: