Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Kejadian ini berlangsung sekitar tahun 2007. Suatu hari nenek saya kedatangan tamu. Seperti biasa layaknya seorang tuan rumah, nenek saya menyuguhkan aneka makanan kecil sebagai cemilan teman mengobrol. Kebetulan saya sedang berada di rumah nenek. Saya menonton televisi dan berusaha tidak menggubris tamu yang sedang bertandang (karena saya tidak kenal dan paling-paling urusannya tidak bersangkutan dengan saya). Kemudian nenek mengambil satu buah kantong plastik berisi rempeyek kacang kedelai di dus dekat kursi tempat saya duduk. Nenek memindahkannya ke dalam kaleng biskuit yang sudah kosong dan menaruhnya diantara cemilan yang lain.

“Monggo lho didahari, ini yang ini enak, monggo di sekecaaken”, ujarnya sambil menawarkan rempeyek kacang kedelai.

“Nggih mbah, maturnuwun”, jawab si tamu basa basi sembari mengambil sebuah rempeyek dari dalam kaleng.

Glethak glethuk, suara rempeyek masuk ke mulut, dan tiba-tiba saya menahan tawa, ketika si tamu mulai berbicara.

“Mbah nyuwun sewu, niki teksih mentah”, sambil senyum-senyum entah apa artinya.

“Oalah, masih mentah, tak kira sudah digoreng, aduh aduh maaf”, jawab nenek saya dengan rasa malu dan tidak enak hati.

“Anu, dibawa saja ke rumah, nanti digoreng di rumah yak”, tambah nenek sembari membungkuskan rempeyek kacang kedelai yang masih mentah itu.

Sumpah, ini kisah nyata!

Tags:

%d bloggers like this: