Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Seperti kata WS Rendra, kesabaran adalah bumi. Bumi adalah tempat kehidupan. Kesabaran membuat orang hidup, simpelnya seperti itulah. Tapi apa iya? Bagaimana membedakan kesabaran dengan kebodohan, atau kesabaran dengan keluguan, atau kesabaran dengan ke-pecundang-an. Jangan tanya saya. Karena mungkin saya adalah salah satu orang sabar yang sekaligus bodoh dan seorang pecundang. Tapi minimal saya bisa bersabar, walaupun tampak bodoh, dan saya punya bumi sendiri yang bisa saya namai “kesabaran”.

Kesabaran identik dengan keyakinan. Kita yakin terhadap suatu hal akan terjadi pada kita, dan kita bersabar menunggunya. Tapi, jangan pernah main-main dengan keyakinan, karena bisa jadi keyakinan ini yang bisa menghancurkan kesabaran kita.

Keyakinan identik dengan sebuah kepastian. Karena sudah pasti, maka kita yakin. Karena sudah pasti dapat nilai A dalam Logika II, maka saya yakin bisa menerapkan prinsip-prinsip penalaran dengan baik. Karena sudah pasti besok tanggal muda, maka saya yakin besok saya bisa beli kolesom di warung pakde. Tapi, tak selalu keyakinan berjalan mulus dengan kepastian bukan? Bagaimana dengan Tuhan? Saya yakin kalok Tuhan itu ada, meskipun belum pasti, kalok nggak yakin, bagaimana saya bisa bertahan hidup melewati berbagai macam persoalan hidup yang kaya celek ini. Kalok saya nggak yakin sama Tuhan, bagaimana saya bisa mencari jawaban tentang kepastian, salah satunya kepastian tentang kesabaran saya yang entah sampai kapan habisnya.

Apa yang menciptakan sebuah kesabaran? Atau kata apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata “sabar”? Kalok saya pertama kali mendengar kata “sabar”, yang pertama muncul adalah “antri”. Dari kata “antri” terlintas dalam benak saya yang berhubungan dengan “antri” adalah menunggu. Apakah dengan begitu adalah antrian yang menciptakan kesabaran? Dengan antri maka lahirlah kesabaran. Apakah untuk melahirkan kesabaran harus antri dulu, atau harus menunggu terlebih dahulu supaya bisa lahir sebuah kesabaran? Hayo piye? Menurut saya, yang menciptakan kesabaran adalah harapan. Saya mau pake logika antri untuk menjelaskannya.

Dalam sebuah antri, ada sebuah harapan agar antrian cepat selesai. Bagaimana supaya antrian cepat selesai, tentu dengan bersabar dan tertib, nggak jotos-jotosan yo, sek tertib yo, haha. Harapan agar antrian cepat selesai, memunculkan rasa sabar, walau sedikit, meskipun akhirnya tak jarang banyak yang emosi. Emosi saat antrian disebabkan oleh kehabisan rasa sabar. Habis? Tidak juga. Rasa sabar tidak pernah habis, hanya saja dikalahkan oleh keyakinan yang berlebih, bahwa antrian cepat selesai. Nah sekali lagi, jangan bermain-main dengan keyakinan anda, karena bisa mengalahkan rasa sabar anda.

Jadi bukankah bisa diterima pendapat saya tentang harapan yang melahirkan kesabaran? Bisa gak hah, Bangsat! Kalok gak terima sini gelut sama saya, Juh!

Manusia hidup dengan harapan. Seperti dalam lagunya Sujiwo Tejo yang judulnya Undian Harapan, manusia bisa bertahan seminggu tanpa makan dan minum, tapi manusia tak akan bisa hidup sedetikpun tanpa harapan. Harapan itu yang memompa jantung kita untuk terus berdenyut, mengalirkan darah dan oksigen ke utek. Harapan itu datang darimana? Dari langit!

Saya masih punya banyak pengharapan, harapan saya besar-besar, saya suka berharap-harap. Khususnya untuk hidup dan kehidupan supaya bermurah hati kepada saya. Harapan inilah yang membuat kesabaran saya berlipat-lipat, seperti perutmu!

Saya juga masih sabar, sangat sabar, meyakini sesuatu yang mungkin tidak pasti bahkan tidak mungkin. Saya yakin, kesabaran saya akan mengalahkan ketidak-mungkinan dalam sudut sempit kemungkinan-kemungkinan yang muncul, pada sebuah ruang ketidak-pastian.

Atau mungkin, saya hanya bermain-main dengan keyakinan saya? Apapun itu, ayam goreng Mbok Sabar itu enaknya minta ampun!

 

%d bloggers like this: