Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

be a man

Saya melihat sebuah acara di televisi semacam reality show, atau apalah itu, yang membentuk beberapa orang banci menjadi seorang lelaki sejati. Sekumpulan banci tersebut diberi pelatihan-pelatihan yang membentuk mental dan perilaku mereka. Mereka diajarkan cara menembak, bertempur (merayap sambil memegang senjata), dan berbagai macam acara outdoor (seperti memanjat tali, melewati lumpur, berenang di laut,  push-up, dll). Lantas saya bertanya-tanya, melihat judul reality show tersebut, apakah banci-banci ini ingin diajak kembali menjadi lelaki, atau ditatar layaknya seorang prajurit yang siap mati di medan tempur. Sepertinya, acara tersebut ingin mengajarkan banci-banci tersebut cara-cara militer, karena pelatihan-pelatihan yang didapat adalah militer. Bahkan acara tersebut tampilannya juga militer, mulai dari seragam yang dipakai para banci, sampai kepada iklan acara tersebut. Kalo begini caranya, jelas menakutkan. Seorang banci saja sudah menakutkan, khususnya bagi saya, lalu bagaimana dengan banci yang militeris. Waduh..

Dari kegelisahan diatas, saya lantas merenung dan berpikir. Apakah dunia lelaki adalah identik dengan militer, sehingga para banci yang akan diajak kembali menjadi laki-laki diberikan pelatihan ala militer.

Laki-laki

Ayah saya pernah berkata “Laki-laki itu harus punya privasi”. Entah apa maksudnya, namun setelah beberapa waktu saya baru mengerti. Hal ini saya terapkan dalam tujuan saya menjalani sebuah hubungan, khususnya pacaran. Pernahkah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, apa tujuan/motivasi kita memiliki/mencari seorang pacar atau istri pada kemudian hari. Ada yang hanya mencari kesenangan semata (hubungan seks, grepe-grepe, berciuman, dll.), ada yang hanya terobsesi saja, karena dia cantik maka saya harus pacaran dengannya, ada yang hanya menganggap adalah sebuah proses menjadi dewasa, karena saya sudah dewasa, maka saya harus punya pacar. Berbagai macam alasan tentunya, dan setiap orang berbeda-beda. Bagaimana dengan anda, apa tujuan anda mencari/memiliki/ seorang pacar?

Nah, kalok saya sih, pacaran ya untuk mendapatkan privasi tersebut, karena saya seorang laki-laki. Kalok belum punya pacar, maka saya belum memiliki privasi, dan kalok belum memiliki privasi maka saya bukan seorang lelaki. Mungkin, testimoni ayah saya tersebut berkaitan dengan kedewasaan. Seorang anak kecil tentu tidak dibolehkan untuk berbuat apa-apa sendiri, apalagi memiliki, karena masih butuh proses belajar bagaimana seharusnya menjaga barang yang kita punya, bertanggung jawab atas barang tersebut, dan mempertahankan barang tersebut. Apabila kita sudah memahami pentingnya tanggung jawab atas apa yang kita miliki, maka kita berhak untuk memiliki barang tersebut, tanpa intervensi pihak lain. Itulah ruang privat, dimana ketika kita beranjak dewasa, kita harus memiliki ruang itu.

Kembali kepada masalah. Secara garis besar, apa yang membuat lelaki berbeda dengan perempuan adalah kemampuan untuk menggunakan rasio/logikanya dengan porsi lebih besar. Seorang perempuan tentu lebih mengedepankan perasaannya, ya itulah kodrat perempuan. Seperti kata Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and Evil, sifat seorang perempuan itu lemah lembut yang alami, penuh misteri, egoisme naif, dll. (testimoni Nietzsche yang menurut saya provokatif adalah, bahwa satu-satunya cara untuk menguak misteri seorang perempuan adalah dengan menghamilinya). Saya sepakat, entah kenapa tiba-tiba saya merasa sepakat. Alasannya, ya tidak ada, pokoknya saya sepakat.

Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, kenapa seorang perempuan itu berani mengoperasikan sebuah mesin (khususnya kendaraan). Perempuan itu kan gampang panik, dan cepat heboh. Saya sering melihat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang perempuan, yang sebenarnya bisa dengan mudah dihindari. Mengoperasikan sebuah kendaraan itu murni menggunakan logika, apabila kita nge-gas segini, maka kecepatannya segini, apabila kita belokin setang ke kanan, maka beloknya ke kanan. Bagaimana caranya membelok gang, ya dengan melihat spion dan mengurangi perseneling ke gigi lebih rendah, supaya motor nggak ngeden dan tenaga yang dibutuhkan proporsional dengan kecepatan yang dihasilkan, jadi gak bikin macet jalanan. Bagaimana caranya menghadapi kondisi lalu lintas yang ramai dan cepat sekali, yakni dengan tidak panik, mampu menguasai badan motor, jangan sampai motor membawa kita, tetapi kita yang membawa motor. Kan begitu!

Nah, seorang lelaki tentunya memiliki porsi logika yang lebih besar dibandingkan perasaannya. Itulah yang menjadikan seorang lelaki seolah tegar, tenang, dan kuat apabila menghadapi sebuah masalah. Bukan menangis dan mengurung diri didalam kamar. Seorang lelaki juga sudah secara otomatis mempunyai kontrak “tanggung jawab” sejak dia dilahirkan.

Lelaki memang bermacam-macam bentuknya, bisa dilihat dari hobi yang dia senangi. Hal inilah yang biasanya menjadi sebuah generalisasi atas lelaki itu sendiri. Beberapa hobi yang dilakukan lelaki biasanya menyangkut hal-hal yang keras dan penuh tantangan. Namun, kita tidak boleh menafikan ada lelaki yang juga menggeuti hobi yang tidak menyangkut dengan hal tersebut. Otomotif, Outdoor, Sepakbola, adalah beberapa hobi yang sangat identik dengan gaya hidup lelaki. Seolah-olah lelaki ingin dibawa kepada sebuah konsep yang keras, tangguh, wibawa, bla bla bla.

Maskulin dan Militer Itu Beda

Dalam acara Be A Man, saya melihat seolah-olah pemahaman bagaimana cara supaya bisa menjadi lelaki sejati adalah dengan cara mendidiknya secara militer. Secara tidak langsung, ada sebuah usaha untuk menyamakan lelaki dengan militer. Militer itu beda dengan lelaki, dan beda pula tentunya dengan maskulinitas. Mungkin, sifat-sifat yang ada didalam militerisme itu (keras, disiplin, kuat, berwibawa) adalah salah satu ciri-ciri yang melambangkan maskulinitas, bukan berdiri sendiri sebagai pembeda dari maskulinitas. Mari saya bawa kepada sebuah analogi. Sebuah demonstrasi yang membakar ban dan merusak adalah salah satu bentuk dari anarkisme, bukan anarkisme itu sendiri. Misal, kita makan di atas meja dan melahapnya menggunakan jari-jari kaki adalah salah satu bentuk dari etika, bukan pengertian etika itu sendiri. Jadi, yang ingin saya tekankan disini adalah sangat tidak benar menggeneralisasi istilah maskulin dengan gaya militerisme.

Menjadi seorang lelaki tidak selamanya harus dibentuk lewat gaya militerisme. Lelaki itu kodrat, mau didandani apapun bentuknya, chasingnya, dia tetap lelaki. Mau bencong, banci, wadam, dia tetap lelaki, selama dia masih bisa menghamili seorang perempuan. Dia tetap pejantan. Dia tetap pria sejati, meskipun menyandang sifat-sifat perempuan yang lemah, yang cengeng.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa acara tersebut menggunakan banci-banci ekstrim untuk dididik menjadi seorang lelaki, bukannya seorang lelaki dengan kepribadian perempuan. Banci-banci tersebut saya pikir  menjadi perempuan karena tuntutan, dan hidupnya mungkin lebih keras dari seorang militeris, atau lelaki sekalipun. Kembali kepada ketakutan saya diatas, bagaimana jadinya bila ada banci namun berkepribadian militer?

oOo

Tags: , , , , , ,

%d bloggers like this: