Skip to content

benisatryo

next issue : cold war!

Sebagai sebuah aktivitas berkesenian, puisi memiliki sebuah proses kreatif dibaliknya. Selain sebagai sebuah aktivitas berkesenian, puisi juga merupakan sebuah aktivitas menulis, atau dalam bahasa saya akan saya istilahkan sebagai aktivitas pembahasaan. Puisi memiliki muatan-muatan bahasa, ada kata, ada frasa, ada kalimat, ada tujuan berkomunikasi, dan adanya sebuah ekspresi. Setiap puisi tidak serta merta hadir begitu saja tanpa adanya sebuah proses panjang. Proses tersebut yang nantinya akan membedakan puisi dengan karya tulis lainnya, yang juga merupakan aktivitas pembahasaan, seperti cerpen, novel, curahan hati, bahkan karya-karya ilmiah macam skripsi, essay, jurnal, dan lain sebagainya. Lantas bagaimana sebuah puisi itu bisa muncul dalam sebuah tulisan, dan apa yang membuat dia berdiri sebuah karya bernama puisi, bukan karya tulis lainnya? Menurut saya ini teorinya J

Menurut saya, sebuah puisi hadir akibat dari harapan si penulis tentang puisi itu sendiri. Puisi bergentayangan dalam bentuk ide, dan masih tercerai berai dalam bentuk kata-kata. Ketika ada sebuah tragedi/peristiwa/fenomena, barulah si penulis mengeluarkan puisi tersebut, kata demi kata dari dalam dunia idenya. Apa yang nantinya membedakan kata-kata yang ingin dipakai dalam puisi itu menjadi sebuah kata-kata puitis, adalah harapan. Apabila kita berharap menulis puisi, tentu kita akan memilih dan menyeleksi kata apa yang ingin kita pakai, dan kata mana yang tidak ingin kita pakai. Begitupun ketika kita ingin menulis sebuah karya tulis lain, dan harapan awal menentukan bentuk karya tulis kita. Sederhananya, apabila awalnya kita berharap menulis essay, ditulis dengan gaya puitis pun hasil akhirnya tetap essay. Gaya puitis itu bagaimana ya?? Mmm, piye yo, saya juga bingung. Gini aja deh, liat buku Bahasa Indonesia aja, nggak tau kelas berapa, yang jelas disitu diajarkan bentuk-bentuk yang membangun sebuah kalimat supaya bisa dibilang sebuah puisi. Misal, ada rima a-b-a-b, a-a-a-a, a-a-b-b, a-b-c-d, dan lain sebagainya.

Kemudian, setelah harapan menulis puisi itu muncul, si penulis kemudian mencari ide untuk puisinya. Ide ini menentukan tentang hal apa yang ingin dia tulis dalam bentuk puisi. Apabila ide tersebut tak kunjung hadir, harapan si penulis untuk menulis puisi pun bisa menjadi ide. Misalnya saja puisi sebagai berikut.

Aku ingin menulis puisi, entah darimana asalnya. Aku kehabisan akal untuk menangkapnya. Entah dia terbuat dari hal macam apa, entah daun kering, tanah menggumpal, atau hanya berbentuk cahaya yang genit menembus dinding kamarku. Aku bingung, harus mulai darimana.Puisi adalah kebingungan itu sendiri.

Puisi sederhana tersebut menggambarkan bahwa ide yang didapat dalam menulis puisi berasal dari harapan tentang menulis puisi itu sendiri. Aku ingin menulis puisi, entah darimana asalnya. Aku kehabisan akal untuk menangkapnya, menggambarkan bahwa si penulis tidak punya ide untuk dibahas dalam puisinya, dan ide tersebut diambil dari harapannya untuk menulis puisi, tentang kebingungan menulis puisi itu sendiri. Entah dia terbuat dari hal macam apa, entah daun kering, tanah menggumpal, atau hanya berbentuk cahaya yang genit menembus dinding kamarku, merupakan sebuah pengalaman atau hal-hal yang ada disekitar si penulis.

Puisi sangat dipengaruhi oleh pengalaman bahasa si penulis puisi itu sendiri. Sebagai contoh puisi diatas tadi, penulis satu dengan penulis lain memiliki pengalaman bahasa sendiri-sendiri. Pengalaman bahasa bisa muncul dari buku apa yang dia baca, hal-hal apa yang ia senangi, dan orang macam apa dia. Hal tersebut menentukan bentuk puisi yang ditulis. Saya akan mencontohkan sebuah puisi lagi, masih menggunakan puisi yang sama, hanya saja sedikit dirubah.

Tak ada puisi hari ini. Hanya huruf p-u-i-s-i yang berserakan diatas meja.Yang kubaca TAHI.

Puisi tersebut sama saja dengan puisi sebelumnya, hanya saja beda ekspresinya. Ini yang saya maksud dengan pengalaman bahasa menentukan sebuah puisi itu seperti apa.

Ketika ketiga hal tersebut (harapan—ide—pengalaman bahasa) dirangkai menjadi sebuah rantai, maka yang harus segera dilakukan adalah menulis. Pengalaman bahasa masih berbentuk konsep-konsep di alam ide si penulis puisi. Artinya, setiap penulis puisi mempunyai konsep-konsep sendiri yang selalu ada didalam kepalanya, yang bisa saja dia katakan/tuliskan setiap saat. Ketika pengalaman bahasa tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan, barulah puisi itu muncul dan bisa dibaca oleh setiap orang.

Ada sebuah garis putus yang menghubungkan antara harapan si penulis terhadap puisi dengan aktivitasnya menulis puisi itu. Garis tersebut menggambarkan bahwa ada sebuah korelasi antar keduanya. Aktivitas menulis puisi tersebut adalah sebuah kristalisasi dari harapan-harapannya tentang puisi itu sendiri. Ketika aktivitas menulis berhenti, maka terciptalah sebuah puisi yang merupakan ekses dari rangkaian semua itu.

Saya mencoba membuat ilustrasi untuk menjelaskan apa yang saya tulis panjang lebar ini.

Sebagai sebuah bentuk kesenian, puisi merupakan suatu media ekspresi. Ketika si penulis puisi membuat sebuah puisi, tentu ada hal yang ingin dia sampaikan, entah secara gamblang atau sembunyi-sembunyi, tergantung si penulis puisi itu sendiri. Tapi, sampai tidaknya ekspresi si penulis puisi kepada pembaca, menurut saya puisi yang dihasilkan sudah merupakan ekspresi itu sendiri.

*puisi-puisi yang digunakan sebagai contoh, merupakan puisi saya sendiri, yang ditulis secara waton 🙂

Tags:

didalam gelisah mengucap takdir,
takdir mana yang tak bisa dikenang?

gugur berguguran, satu per satu
dibawah sepinya langit, diatas hutan
tak bercahaya, berputar-putar di udara

kepada terang dia kembali
lewat gerimis yang berbunyi

kebahagiaan adalah duka yang tertunda

Jogjakarta, 25 September 2010

Tags:

di sela-sela kabut yang itu
matahari berguguran, cahaya demi cahaya

di sela-sela kabut yang itu pula
sekilas kita memandang, cinta kita
yang berkalang, rintik demi rintik, menjadi kabut

menghalangi sudut pandang kita
tentang matahari yang berguguran, cahaya demi cahaya

dimana ia tiada?

Jogjakarta, 18 September 2010

Tags:

meresap peluh, berteduh hangat
secangkir teh dan secarik peristiwa
hujan yang bergulung berkelana
hanya berakhir diujung jemari kita

kita menunjuk kabut yang tak terlihat
ini hari sudah malam, dan kita harus berkemas
menuju cium yang selalu kita ingat

Jogjakarta, 30 Agustus 2010

Tags:

: buat B

I.

menetes pula airmata
dari sebuah lupa

dan, aku mengenangmu
sebagai sebuah kerinduan
yang lupa terjaga

II.

aku biarkan, malam yang pekat,
menangis sejadi-jadinya, dalam sunyi
tanpa bunyi, menjadi isyarat

memanggilmu kembali

III.

rembulan berkabut, malam gerimis
melekat lirih, gugur berguguran
pada yang berhembus dan berdetak

mengalir pula do’a-do’a
pada kerinduan yang bertaut
antara dirimu dan sebuah tiada

Jogjakarta, 28 Agustus 2010

Tags:

: buat B

hujan sebutir demi sebutir
pecah dan membuncah di kaca jendela
menjadi hantu-hantu kecil yang menempel
berbisik tentang entah suatu apa

kau tahu, tetes air itu
bening dan menggigil, menggigiti ujung jari

disana ada sepenggal kisah
dari sore yang membeku,
yang sedang menatap matanya sendiri

Jogjakarta, 24 Agustus 2010

Tags:

Layar-layar berkibar, ditiup angin yang menjadi-jadi. Layang-layang membegot, berontak kesana-kemari. Langit-langit bercahaya temaram, lampu neon berkedap-kedip bagai mata seekor bayi harimau. Lamat-lamat bergoyang disudut kamar, tersapu hawa dingin yang masuk lewat jendela yang setengah terbuka. Laki-laki terhuyung setengah berlari. Lambat laun tersungkur dibawah meja makan. Apa lacur mereka bergegas menuju pematang. Menunggu hujan reda, yang belum datang.

Layar-layar berkibar, laki-laki tertidur. Hujan tak reda, namun tak pernah juga datang.

Jogjakarta, 2010

Tags: